Selasa, 09 Juli 2013

KITAB ASH SHIYAM SHOHIH MUSLIM : FIQH PUASA DAN RAHASIANYA (2)




بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


CATATAN DARS



>>> Kitab Ash Shiyam dari Shohih Muslim, tiap babnya ditulis atau dibawakan oleh Imam An Nawawi rahimahullah. Ada pun pada kitab aslinya langsung -Shohih Muslim- tidak terdapat.


BAB

KEUTAMAAN BERPUASA DAN BERBUKA KARENA MELIHAT HILAL DAN MENGGENAPKAN 30 HARI APABILA MENDUNG



A. HADITS KEUTAMAAN RAMADHAN

>>> Hadits Pertama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :Apabila datang awal malam dari bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang sangat jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup tidak ada satu pintupun yang terbuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka tidak ada satu pintupun yang ditutup. Dan seorang penyeru menyerukan: ‘Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.’ Dan Alloh memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya no. 682 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya no. 1682, dihasankan Asy-Syaikh Albani rahimahullahu dalam Al-Misykat, No. 1960)


Penjelasan Hadits :

--Menjelaskan keutamaan Ramadhan dimana pintu=pintu Surga dibuka dan pintu-pintu Neraka ditutup.

--Bahwasanya Surga dan Neraka memiliki pintu-pintu. Sebagaimana yang terdapat dalam Al Qur’an bahwa Surga memiliki 8 pintu, sedangkan Neraka memiliki 7 pintu. Masing-masing pintu Surga dan Neraka terdapat penjaganya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang pertama kali mengetuk pintu Surga sekaligus orang pertama yang memasukinya.

Dari Imam Ahmad rahimahullah dari Sulaiman bin Mughirah, dari Tsabit, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Setelah aku tiba di pintu surga pada hari kiamat, aku meminta agar pintu surga dibuka. Penjaga pintu Surga bertanya: “Anda siapa?” Aku pun menjawab: “Aku Muhammad,” Ia berkata: “Untukmu aku diperintahkan agar tidak membukakan pintu untuk siapapun sebelum engkau memasukinya.” (HR Muslim dan Ahmad)
Dari Abu Kuraib dan Muhammad bin al-Ala’, dari Mu’awiyah Ibnu Hisyam, dari Sufyan, dari Mukhtar bin Fulful, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Pada hari kiamat nanti, di antara para Nabi, akulah yang paling banyak pengikutnya, dan aku adalah orang pertama yang mengetuk pintu surga.” 
(HR. Muslim)


Permasalahan siapa penjaga pintu Surga seperti yang dikenal oleh kebanyakan orang yaitu Malaikat Ridwan, maka hal yang seperti itu membutuhkan dalil karena tidak ada 1 pun dalil yang menjelaskan hal tersebut. Ada pun penjaga pintu Neraka, yaitu Malaikat Malik memang dijelaskan di dalam Al Qur’an. Para penghuni neraka berkata ketika mereka terus-menerus ditimpa siksaan Neraka, “Wahai, Malik! Matikanlah kami. Karena kami sudah tidak tahan dengan siksaan ini. “

Pintu-pintu Surga sesuai dengan jenis amalannya. Ada Pintu Royyan bagi orang yang sering berpuasa, ada pintu untuk ahli sholat, ahli shodaqoh, ahli jihad. Tatkala pintu-pintu Surga dibuka begitu banyaknya di bulan Ramadhan, maka ini menunjukkan banyak amalan-amalan terbuka padanya. Ada amalan Sholat Tarawih… Shodaqoh… Puasa… Sholat… Istighfar... Membaca Al Qur’an... Kedermawanan… Kesyukuran... Zakat Fitri.. Sedekah dengan memberikan makan bagi orang yang berpuasa… Do’a... Ampunan untuknya… Sebab orang yang tidak diampuni dosanya di bulan Ramadhan disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai orang yang menghina dan merugi.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang disebutkanku, lalu dia tidak bershalawat atasku (1), Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya) (2), Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam surge (3)”. 
(HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani rahimahullah di dalam kitab Shahih Al Jami’)


Faidah dari Hadits di atas :

~~Seharusnya dengan kebaktiannya kepada orang tuanya di kala orang tuanya telah berusia lanjut mampu memasukkannya ke dalam Surga, namun karena kedurhakaannya, perbuatannya yang menyia-nyiakan orang tuanya justru memasukkannya ke dalam Neraka.



Kalau guru membaca sholawat kepada Nabi, hendaknya para murid mengikuti agar mendapatkan pahalanya juga. Seorang ahli hadits, maka ia adalah orang yang paling banyak bershalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam karena seorang ahli hadits, setiap kali mereka hendak menulis atau membaca hadits, mereka selalu bershalawat atas Nabi. Tidak seperti ungkapan sebagian orang yang mengatakan bahwa Ahlussunnah tidak suka bershalawat kepada Nabi karena ahlussunnah mem-bid’ahkan Maulid, dan sebagainya. Padahal yang paling banyak membacakan shalawat atas Nabi adalah ahli hadits. Tiap kali mereka menulis hadits, membaca hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mereka bershalawat atas beliau. Itu lah keutamaan ahli hadits sehingga DUSTA jika dikatakan ahlussunnah tidak suka membaca sholawat.


>>> Puasa mengarahkan kita menjadi pribadi yang kuat sebab ketika seseorang merasa lapar dan haus peredaran darahnya akan menyempit sehingga menghalangi lingkup Syaithon menguasai dirinya. Maka, kegemaran jiwa tatkala ia sedang berpuasa akan cenderung kepada kebaikan-kebaikan.

Dalam Ash-Shahih dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,Sesungguhnya syaithon itu mengalir dalam tubuh anak Adam seperti mengalirnya darah. ” 
[HR. Al-Bukhari (6219 -Al-Fath) dan Muslim (2175)]


>>> Puasa mempunyai keindahan di dalamnya. Membantu seseorang dalam bertaqwa,. Para ulama’ ketika ingin melakukan ibadah yang agung, mereka melakukan puasa agar diberi kemudahan melakukan ibadah tersebut sebab puasa menjadi pendorongnya dalam melakukan amalan-amalan ketaqwaan, kecuali jihad karena ketika seseorang berjihad membutuhkan kekuatan fisik yang bagus dan itu akan didapati jika dirinya tidak sedang berpuasa.

>>> Tidak perlu dipertanyakan pula bagaimana pintu-pintu Surga dibuka. Syaithon diikat, dibelenggu. Cukup dengan kita mengimani bahwa Surga memiliki banyak macam pintu di dalamnya dan dibuka ketika Ramadhan datang.



Syaithon dibelenggu di bulan Ramadhan. Lalu, mengapa masih banyak syaithon-syaithon manusia berkeliaran???? Masih banyak perbuatan syaithon-syaithon Nampak di bulan Ramadhan????

Para ulama’ menyebutkan berbagai alasannya dengan alasan yang paling indah yaitu :

1.) Bahwa seruan untuk berbuat jelek itu berasal dari 2 hal, yaitu (1) syaithon itu sendiri yang mengajak kepada keburukan, dan (2) bisikan jiwa yang jelek. 


“Sesungguhnya jiwa itu selalu mengarah kepada kejelekan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 
(QS. Yusuf : 53). 


Jiwa yang buruk ini lah yang mengantarkan manusia ke dalam perbuata dosa sekalipun syaithon telah dibelenggu. Maka, bagi siapa pun yang menghayati makna puasa, dia akan dapati bahwa puasa itu sesungguhnya untuk melatih, mendidik, dan mensucikan jiwanya dari berbagai keburukan dan kemaksiatan. Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullah dan selainnya menyebutkan jawaban-jawaban lainnya.


2.) Pada sebagian riwayat dari Imam An Nasa’i rahimahullah memberikan jawaban bahwa ketika Ramadhon yang dibelenggu itu adalah pentholannya syaithon, sedangkan syaithon-syaithon kecil dilepas.

Tambahan referensi dari saya :

Makna ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits paling atas صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ adalah setan itu dibelenggu. Dan yang dimaksudkan dengan setan di sini adalah مَرَدَةُ الْجِنِّ sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Kata مَرَدَةٌ adalah bentuk jamak (lebih dari dua) dari kata الْمَارِدُ yaitu الْعَاتِي الشَّدِيْدُ, maknanya yang sangat angkuh, durhaka, bertindak sewenang-wenang lagi melampaui batas (Lihat An-Nihayah fi Gharibil Hadits). Sehingga yang dibelenggu hanyalah setan dari kalangan jin yang sangat jahat, adapun setan dari kalangan manusia tetap berkeliaran.


>>> Pada pembahasan Kitab Ash Shiyam dari Shohih Muslim, Imam Muslim rahimahullah membawakan banyak sanad dalam 1 hadits dengan lafazh yang berbeda.


>>> Hadits Kedua

Dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Jika bulan Ramadhan datang, maka dibukalah pintu-pintu rahmat, ditutup pintu-pintu neraka dan syaithon dirantai.” 
(HR. Muslim No. 1079)


Hadits dengan lafazh yang berbeda dari hadits yang pertama, yaitu bahwa di Ramadhan dibuka pintu-pintu rahmat. Namun, hadits kedua ini tidak bertentangan dengan hadits pertama sebab surga itu sendiri merupakan rahmat Alloh bagi hamba-hambanya. Rahmat adalah kalimat yang umum sehingga menunjukkan keutamaan Ramadhan. Maka, bagi orang yang hendak beratubat, segerelah bertaubat! Bagi yang mempunyai keinginan atau hajat, segeralah memohona atau berdo’a!



Catatan Tambahan dari Ustadz :

-- Ada yang menyebutkan Ramadhan saja tanpa bulan, ada pula yang menyebutkan bulan Ramadhan dengan tambahan bulan di depannya sebab ada haditsnya yang mengatakan bahwa Ramadhan termasuk dari salah satu nama-nama Alloh. Tetapi, haditsnya lemah. Imam Al Bukhory rahimahullah dalam shohihnya menguatkan hal ini bahwa dalam permasalahan ini terdapat keluasan. Boleh mengatakan Ramadhan saja, boleh juga dengan menambahkan bulan Ramadhan. Perkataan beliau rahimahullah tersebut dikuatkan pula oleh Ibnul Mulaqin, Ibnu Hajar, dan selainnya. 

Pembahasan seperti ini tidak terlalu penting sebenarnya. Hanya saja ini menunjukkan keluasan ilmu para ulama’. Detailnya ilmu mereka. Dalamnya fiqh para ulama’ sehingga ketika ada silang pendapat dalam hal penyebutannys mereka akan merincinya dan hal ini sekedar pengetahuan saja bagi kita para penuntut ilmu syar’i. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali kita meremehkan para ulama’. Sikap meremehkan ini termasuk tanda dari orang munafiq, zindiq (orang yang merendahkan sebagian, kemudian meninggikan sebagian yang lain dalam waktu yang bersamaan), tidak ada penghargaan kepada orang yang berilmu. Padahal orang yang berilmu itu adalah orang yang diberi cahaya oleh Alloh di hatinya. Berbeda dengan orang-orang yang tidak berilmu. Maka, untuk itu lah Alloh perintahkan bagi kita untuk bertanya kepada para ulama. 

Alloh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Bertanyalah kepada AHLUL DZIKR jika kamu tidak mengetahui. “ 
(QS. Al-Anbiya : 7 dan An-Nahl : 43).


Tambahan referensi dari saya : 

Maksud dari ahli dzikr pada ayat di atas adalah ahli ilmu, yakni para ulama’. 
(Lihat Tafsir As-Sa’di, hal: 519).




…Bersambung insya Allohu Ta’ala…






~~~~~~~~~~~~~~~0000~~~~~~~~~~~~~~~~








Tidak ada komentar: