Jumat, 29 November 2013

Tsalatsatul Ushul wa Adillatuha : 1.Muqoddimah dan Faidah Basmallah


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ



"... Ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang ALLOH, sedangkan kecintaan yang paling tinggi adalah kecintaan kepada-NYA. Sementara itu kelezatan yang paling sempurna akan bisa digapai berbanding lurus dengan dua hal ini.”
[Al-Fawa’id, hal. 52]

MASRUQ rohimahulloh berkata,
“ Sekedar dengan kualitas ilmu yang dimiliki seorang hamba, maka sekedar itulah rasa takutnya kepada ALLOH. Dan sekedar tingkat kebodohannya, maka sekedar itulah hilang rasa takutnya kepada ALLOH.” 
[Syarh Shohih Al Bukhory, Ibnu Baththol, 1/136]
.........................................................


A. BIOGRAFI :

- Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahulloh lahir di ‘Uyainah (selatan Riyadh) pada tahun 1.115 H. Bapak beliau seorang qodhi’ (hakim) atau seorang ulama pada masa itu. Beliau belajar dari bapaknya terutama fiqih ber-mazhab Hambali. Pada waktu itu di Najd masyarakatnya terkenal dengan mazhab Hambali, walaupun dalam aqidah kebanyakannya ber-aqidah Asy-‘ariyah dan Maturidiyah. Beliau pergi ke Makkah, Madinah, Irak untuk menuntut ilmu. Beliau banyak menelaah kitab Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim rohimahumulloh yang terkenal berpegang teguh dengan aqidah Salafush Sholih.

- Beliau kembali ke ‘Uyainah dan Ibnu ‘Amr (amir kota ‘Uyainah ketika itu) memberikan dukungan kepada dakwah Syaikh dan mereka berdua sempat menghancurkan kubah Zaid bin Al-Khatthab rodhiyallohu ‘anhu dan berbagai kuburan yang mengandung kesyirikan, bid’ah, dan khurofat.

- Suatu hari ada berita dari penguasa ‘Uyainah (pemerintah Agsa’) yang biasa memberikan harta kepada Ibnu ‘Amr bahwa beliau mengancam kalau Ibnu ‘Amr tidak mengusir Syaikh, maka tidak akan diberikan upeti. Syaikh lalu menasehati Ibnu ‘Amr , “Sesungguhnya apa yang berada di sisi Alloh lebih baik dan lebih kekal.” Pada akhirnya, Syaikh pun tetap diusir dari ‘Uyainah.

- Syaikh lalu pergi menuju Dir’iyyah. Seorang pemimpin Dir’iyyah, yaitu Al Imam Muhammad bin Su’ud datang menemui Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab setelah mendengar langsung dari istri beliau tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahumulloh. Al Imam Muhammad bin Su’ud mendatangi dan membantu dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam memerangi berbagai kesyirikan, kebid-ahan, dan khurofat di wilayah Saudi Arabia hingga berdirilah kerajaan Saudi Arabia seperti sekarang ini.

- Ciri Penulisan Risalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rohimahulloh dan Mengapa Kita Mempelajari Risalah Beliau :
  1. Metode penulisan beliau dalam risalah terpisah sehingga menjadi berjenjang dan tidak mengumpulkan seluruh permasalahan tauhid dalam satu kitab saja.
  2. Risalah beliau rohimahulloh diakui oleh para ‘ulama Ahlussunnah dari zaman ke zaman dan tetap diajarkan hingga saat ini.




B. PEMBAHASAN :

Metode Pembahasan
- Metode pembahasan yang disampaikan Ustadz tidak membaca dengan syaroh (penjelasan) tertentu, seperti syaroh yang ditulis oleh Syaikh bin Baaz, Syaikh Sholih Al ‘Utsaimin, Syaikh Sholih Al-Fauzan, dan lain-lain yang semua itu menunjukkan pentingnya kitab ini dan kedudukannya disisi para ‘ulama, tetapi fokus pada matan (isi, ucapan, lafadz) kitab dan mengambil ikhtisar faidah dari syaroh beberapa ‘ulama.


Judul Kitab
- Judul Kitab : Tsalatsatul Ushul wa Adillatuha (3 Landasan Utama dan Dalil-dalilnya).
- Perbedaan antara Tsalatsatul Ushul dengan Al Ushul Ats Tsalatsah :
==> Tsalatsatul Ushul : punya 3 muqoddimah yang sangat penting sekali.
==> Al Ushul Ats-Tsalatsah : Langsung pada isi. Namun, hakikatnya sama untuk menjelaskan 3 pokok aqidah Islam (mengenal Alloh, Nabi-NYA, dan Islam). Ushul lebih tipis dan disebutkan dalam tanya jawab dan tidak ada muqoddimah.


Dasar Pembahasan Kitab
- Dasar pembahasan kitab ini adalah 3 perkara yang paling penting untuk dipelajari dan 3 perkara yang akan ditanya ketika kita memasuki alam kubur nanti. Berdasarkan hadits-hadits mutawatir berkaitan dengan fitnah kubur, yaitu pertanyaan-pertanyaan di alam kubur : Siapa Robb-Mu, apa agamamu, dan siapa Nabimu?

- ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha berkata, “Aku khawatir tentang fitnah kubur sehingga aku bertanya kepada Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam, ‘ Bagaimana denganku, ya Rosululloh karena aku wanita yang lemah? Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam berkata, 


“Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan mengokohkan orang yang beriman dengan perkataan yang kokoh (jawaban yang tepat) dalam kehidupan dunia dan akhirat.” 


Maksud kehidupan dunia dalam hadits tersebut adalah alam barzakh dan kehidupan akhirat adalah Alloh kokohkan ucapannya ketika menjawab pertanyaan dua malaikat .

- Jika dia orang yang beriman, Alloh akan kokohkan jawabannya. Alloh lapangkan kuburannya.

- Jika dia orang yang kafir tidak akan bisa menjawab dan dibukakan untuk mereka pintu neraka dan disempitkan kuburannya.

- Jika dia orang yang munafiq dan orang yang ragu dalam keimanannya. Jawabannya seperti dalam  hadits, “Ha…ha.., Aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu lalu aku ikut mengatakannya.” 


Para ‘ulama menjelaskan hadits ini bahwa dalam masalah aqidah tidak boleh taqlid. Jika taqlid, maka keadaannya akan sama seperti orang munafiq. Kalau kita tidak belajar Tsalasatul Ushul, hanya sekedar ikut-ikutan saja, tanpa mengetahui dalil, maka keadaan kita akan sama seperti orang munafiq. Dari sini para ‘ulama berkata, “ Bahwasanya taqlid tidaklah bermanfaat bagi aqidah seseorang. ”


- Oleh karena itu, betapa pentingnya mempelajari ilmu agama agar kita membangun keimanan diatas ilmu, bukan diatas taqlid semata. Bukan berati harus menghafal, walau memang itu yang terbaik. Tapi, paling tidak kita beriman kepada Alloh, Nabi-NYA, dan menjalankan agama-NYA berdasarkan dalil.

- Alloh hanya akan mengokohkan orang-orang yang beriman. Ada pun keimanan dibangun diatas keyakinan. Tidak mungkin keyakinan itu ada atau dibangun, melainkan dengan ilmu. Jika dibangun diatas kejahilan, maka bukan iman yang benar.


Faidah Ucapah Basmallah

- Beliau memulai dengan ucapan basmallah. Hikmahnya :

1. Bentuk peneladan terhadap kitab Alloh dengan ucapan basmallah.
Para ‘ulama sepakat bahwa bismillah termasuk bagian dari Suroh An-Naml. Bukan bagian dari Suroh At-Taubah. Terjadi perbedaan pendapat apakah basmallah  bagian dari surat atau pembuka surat??? Pendapat yang benar –insya Alloh-, hanyalah sebagai pembuka surat. Termasuk dalam Suroh Al-Fatihah.

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahulloh menjelaskan, “Ucapan bismillaahirrohmanirrohiim bukan bagian dari suroh termasuk Suroh Al-Fatihah. Dalilnya hadits Imam Muslim dari Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu bahwa Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa Sallam berkata, “Alloh berfirman,’ AKU membagi sholat antara AKU dengan hamba-KU dengan 2 bagian. Kalau hamba-KU mengucapkan alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin. Maka, AKU menjawab hamidanii  ‘abdii …’ ”

As-Sholah (sholat) disini maksudnya Suroh Al-Fatihah dan ini salah satu nama dari Suroh Al-Fatihah. Hadits ini dimulai dengan hamdalah sehingga menunjukkan basmalah bukan bagian dari suroh. Dalil lainnya dari Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu dalam riwayat Shohih Muslim, “Aku sholat bersama Rosululloh, Abu Bakar, dan ‘Umar. Mereka semua tidak mengucapkan basmallah diawal dan diakhir bacaan (dalam riwayat lain maksudnya tidak diucapkan adalah tidak dikeraskan).” Jadi, ini merupakan dalil bahwa basmallah bukan bagian dari Suroh Al-Fatihah.


2. Bentuk peneladan Sunnah Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa Sallam. 
Dimana dalam surat beliau dimulai dengan ucapan basmallah. Contoh : Surat beliau kepada Heraklius (Raja Romawi) dalam riwayat Bukhori dan Muslim, dalam riwayat Muslim perihal Perjanjian Hudaibiyah dimana Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan ‘Ali bin Abi Tholib rodiyallohu ‘anhu, “ Tulislah perjanjian antara kami dengan basmallah”. Memulai tulisan dengan basmallah adalah sunnah. Ada pun hadits wajibnya memulai amalan dengan basmallah “Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan basmallah, maka terputus dengannya keberkahan”. Derajat hadits ini dhoif sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam Irwa’ul Gholil. Wallohu a’lam.


Makna Ucapan Bismillaahirrohmanirrohiim :
- Kata “bismi ” yang diawali dengan huruf jarr (isim majrur) terkait dengan sesuatu yang dihapus, yaitu Fi’il Khos Muakhor (fi’il yang diakhirkan) yang sesuai untuk setiap keadaan.
- Contoh : Saya menulis è Bismillaahi aktubu atau aktubu bismillaah ? è Jawaban yang benar sesuai kaidah nahwu adalah bismillaahi aktubu.


Faidah penting dimulainya sesuatu dengan ucapan bismillaah :
1. untuk tabarruk (mencari keberkahan, yaitu kebaikan yang banyak dan terus menerus ada) dengan nama Alloh. Maka, ketika hendak ber-aktivitas yang dibaca adalah bismillaahi aktubu bukan aktubu bismillaah sebab seagala aktivitas harus dimulai dengan ucapan bismillaah untuk tabaruk.

2. untuk isti’anah billah (meminta pertolongan kepada Alloh). Dari sisi bahasa dikedepankan bismillaah terlebih dahulu daripada aktubu maknanya sebagai pembatasan (Al-Hasr). 

Contoh : Iyya kana' budu wa iyya kanasta'in (Hanya Engkaulah yang kami ibadahi dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan). Artinya kita meminta pertolongan hanya kepada Alloh dan beribadah hanya kepada-NYA yang dari situ makna bismillaah adalah isti’anah. Kalau dibalik menjadi “na’budu iyyaka” atau “nasta’inu iyyaka” artinya berarti tidak ada  pembatasan dalam beribadah dan memohon pertolongan.


Peringatan 

Memulai amalan atau aktivitas kita selalu membutuhkan pertolongan Alloh dan meminta pertolongan kepada selain Alloh dalam perkara yang hanya Alloh saja yang mampu melakukannya, maka termasuk kesyirikan ; 

Ketika kita memulai suatu amalan dengan basmallah, berarti peringatan bagi kita bahwa dalam melaksanakan amalan harus sesuai dengan syari’at Alloh. Jika kita mau belajar, maka iringilah dengan ketaqwaan karena ketaqwaan merupakan salah satu syarat dalam meraih ilmu. Jika seseorang bermaksiat, maka tidak akan ditolong oleh Alloh. Al Imam Asy-Syafi’i rohimahulloh berkata,  


شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي  

Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa lmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” 

(I’anatuth Tholibin, 2: 190)





[Faidah dari Al-Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray hafizhohulloh]




Rekaman Tsalatsatul Ushul lainnya :

- Al Ustadz Sofyan Chalid Ruray
NB :
Mendatangi langsung majelis ilmu tetap yang lebih baik dan lebih utama.

_________________________________________________________________________

Tidak ada komentar: