بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
"... Ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang ALLOH,
sedangkan kecintaan yang paling tinggi adalah kecintaan kepada-NYA. Sementara
itu kelezatan yang paling sempurna akan bisa digapai berbanding lurus dengan
dua hal ini.”
[Al-Fawa’id, hal. 52]
MASRUQ rohimahulloh
berkata,
“ Sekedar dengan kualitas
ilmu yang dimiliki seorang hamba, maka sekedar itulah rasa takutnya kepada
ALLOH. Dan sekedar tingkat kebodohannya, maka sekedar itulah hilang rasa
takutnya kepada ALLOH.”
[Syarh Shohih Al Bukhory,
Ibnu Baththol, 1/136]
A.
BIOGRAFI :
- Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahulloh
lahir di ‘Uyainah (selatan Riyadh) pada tahun 1.115 H. Bapak beliau seorang
qodhi’ (hakim) atau seorang ulama pada masa itu. Beliau belajar dari bapaknya
terutama fiqih ber-mazhab Hambali. Pada waktu itu di Najd masyarakatnya
terkenal dengan mazhab Hambali, walaupun dalam aqidah kebanyakannya ber-aqidah
Asy-‘ariyah dan Maturidiyah. Beliau pergi ke Makkah, Madinah, Irak untuk
menuntut ilmu. Beliau banyak menelaah kitab Ibnu Taimiyah dan Ibnu
Qoyyim rohimahumulloh yang
terkenal berpegang teguh dengan aqidah Salafush
Sholih.
- Beliau kembali ke ‘Uyainah dan Ibnu ‘Amr
(amir kota ‘Uyainah ketika itu) memberikan dukungan kepada dakwah Syaikh dan
mereka berdua sempat menghancurkan kubah Zaid
bin Al-Khatthab rodhiyallohu ‘anhu
dan berbagai kuburan yang mengandung kesyirikan, bid’ah, dan khurofat.
- Suatu hari ada berita dari penguasa ‘Uyainah
(pemerintah Agsa’) yang biasa memberikan harta kepada Ibnu ‘Amr bahwa beliau
mengancam kalau Ibnu ‘Amr tidak mengusir Syaikh, maka tidak akan diberikan
upeti. Syaikh lalu menasehati Ibnu ‘Amr , “Sesungguhnya apa yang berada di sisi
Alloh lebih baik dan lebih kekal.” Pada akhirnya, Syaikh pun tetap diusir dari
‘Uyainah.
- Syaikh lalu pergi menuju Dir’iyyah. Seorang pemimpin Dir’iyyah,
yaitu Al Imam Muhammad bin Su’ud
datang menemui Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab setelah mendengar langsung dari
istri beliau tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahumulloh. Al Imam Muhammad bin Su’ud mendatangi dan membantu
dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam memerangi berbagai kesyirikan,
kebid-ahan, dan khurofat di wilayah Saudi Arabia hingga berdirilah kerajaan
Saudi Arabia seperti sekarang ini.
- Ciri
Penulisan Risalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rohimahulloh dan Mengapa Kita Mempelajari Risalah Beliau :
- Metode penulisan beliau dalam risalah terpisah sehingga menjadi berjenjang dan tidak mengumpulkan seluruh permasalahan tauhid dalam satu kitab saja.
- Risalah beliau rohimahulloh diakui oleh para ‘ulama Ahlussunnah dari zaman ke zaman dan tetap diajarkan hingga saat ini.
B.
PEMBAHASAN :
Metode
Pembahasan
- Metode pembahasan yang disampaikan Ustadz
tidak membaca dengan syaroh (penjelasan) tertentu, seperti syaroh yang ditulis
oleh Syaikh bin Baaz, Syaikh Sholih Al
‘Utsaimin, Syaikh Sholih Al-Fauzan, dan lain-lain yang semua itu menunjukkan
pentingnya kitab ini dan kedudukannya disisi para ‘ulama, tetapi fokus pada
matan (isi, ucapan, lafadz) kitab dan mengambil ikhtisar faidah dari syaroh
beberapa ‘ulama.
Judul
Kitab
- Judul Kitab : Tsalatsatul Ushul wa Adillatuha (3 Landasan Utama dan Dalil-dalilnya).
- Perbedaan antara Tsalatsatul Ushul dengan
Al Ushul Ats Tsalatsah :
==> Tsalatsatul
Ushul : punya 3 muqoddimah yang
sangat penting sekali.
==> Al Ushul Ats-Tsalatsah : Langsung pada isi. Namun,
hakikatnya sama untuk menjelaskan 3 pokok aqidah Islam (mengenal Alloh, Nabi-NYA,
dan Islam). Ushul lebih tipis dan disebutkan dalam tanya jawab dan tidak ada
muqoddimah.
Dasar
Pembahasan Kitab
- Dasar pembahasan kitab ini adalah 3 perkara
yang paling penting untuk dipelajari dan 3 perkara yang akan ditanya ketika
kita memasuki alam kubur nanti. Berdasarkan hadits-hadits mutawatir berkaitan dengan fitnah kubur, yaitu pertanyaan-pertanyaan
di alam kubur : Siapa Robb-Mu, apa agamamu, dan siapa Nabimu?
- ‘Aisyah
rodhiyallohu ‘anha berkata, “Aku
khawatir tentang fitnah kubur sehingga aku bertanya kepada Rosululloh Sholallohu ‘alaihi
wa sallam, ‘ Bagaimana denganku, ya Rosululloh karena aku wanita yang
lemah? Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam berkata,
“Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan mengokohkan orang yang beriman dengan perkataan yang kokoh (jawaban yang tepat) dalam kehidupan dunia dan akhirat.”
Maksud kehidupan dunia dalam hadits
tersebut adalah alam barzakh dan kehidupan
akhirat adalah Alloh kokohkan ucapannya ketika menjawab pertanyaan dua malaikat
.
- Jika dia orang yang beriman, Alloh akan
kokohkan jawabannya. Alloh lapangkan kuburannya.
- Jika dia orang yang kafir tidak akan bisa
menjawab dan dibukakan untuk mereka pintu neraka dan disempitkan kuburannya.
- Jika dia orang yang munafiq dan orang yang
ragu dalam keimanannya. Jawabannya seperti dalam hadits, “Ha…ha..,
Aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu lalu aku ikut
mengatakannya.”
Para ‘ulama menjelaskan hadits ini bahwa dalam masalah aqidah tidak boleh taqlid. Jika taqlid, maka keadaannya akan sama seperti orang munafiq. Kalau kita tidak belajar Tsalasatul Ushul, hanya sekedar ikut-ikutan saja, tanpa mengetahui dalil, maka keadaan kita akan sama seperti orang munafiq. Dari sini para ‘ulama berkata, “ Bahwasanya taqlid tidaklah bermanfaat bagi aqidah seseorang. ”
- Oleh karena itu, betapa pentingnya
mempelajari ilmu agama agar kita membangun keimanan diatas ilmu, bukan diatas taqlid semata. Bukan berati harus menghafal,
walau memang itu yang terbaik. Tapi, paling tidak kita beriman kepada Alloh,
Nabi-NYA, dan menjalankan agama-NYA berdasarkan dalil.
- Alloh hanya akan mengokohkan orang-orang
yang beriman. Ada pun keimanan dibangun diatas keyakinan. Tidak mungkin
keyakinan itu ada atau dibangun, melainkan dengan ilmu. Jika dibangun diatas
kejahilan, maka bukan iman yang benar.
Faidah
Ucapah Basmallah
- Beliau memulai dengan ucapan basmallah. Hikmahnya
:
1. Bentuk peneladan terhadap kitab Alloh
dengan ucapan basmallah.
Para ‘ulama sepakat bahwa bismillah termasuk
bagian dari Suroh An-Naml. Bukan bagian dari Suroh At-Taubah. Terjadi perbedaan
pendapat apakah basmallah bagian dari
surat atau pembuka surat??? Pendapat yang benar –insya Alloh-, hanyalah sebagai
pembuka surat. Termasuk dalam Suroh Al-Fatihah.
Asy-Syaikh Muhammad
bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahulloh menjelaskan, “Ucapan bismillaahirrohmanirrohiim
bukan bagian dari suroh termasuk Suroh Al-Fatihah. Dalilnya hadits Imam Muslim dari Abu Hurairoh rodhiyallohu
‘anhu bahwa Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa Sallam berkata,
“Alloh berfirman,’ AKU membagi sholat antara AKU dengan hamba-KU dengan 2
bagian. Kalau hamba-KU mengucapkan alhamdulillaahi
robbil ‘aalamiin. Maka, AKU menjawab hamidanii ‘abdii …’ ”
As-Sholah (sholat) disini maksudnya Suroh Al-Fatihah
dan ini salah satu nama dari Suroh Al-Fatihah. Hadits ini dimulai dengan
hamdalah sehingga menunjukkan basmalah bukan bagian dari suroh. Dalil lainnya dari
Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu dalam riwayat Shohih Muslim, “Aku sholat bersama Rosululloh, Abu Bakar, dan ‘Umar.
Mereka semua tidak mengucapkan basmallah diawal dan diakhir bacaan (dalam
riwayat lain maksudnya tidak diucapkan adalah tidak dikeraskan).” Jadi, ini merupakan
dalil bahwa basmallah bukan bagian dari Suroh Al-Fatihah.
2. Bentuk peneladan Sunnah Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa Sallam.
Dimana dalam surat beliau dimulai
dengan ucapan basmallah. Contoh : Surat beliau kepada Heraklius (Raja Romawi)
dalam riwayat Bukhori dan Muslim, dalam riwayat Muslim perihal Perjanjian
Hudaibiyah dimana Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa Sallam
memerintahkan ‘Ali bin Abi Tholib rodiyallohu ‘anhu, “ Tulislah perjanjian
antara kami dengan basmallah”.
Memulai tulisan dengan basmallah adalah sunnah. Ada pun hadits wajibnya memulai
amalan dengan basmallah “Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan
basmallah, maka terputus dengannya keberkahan”. Derajat hadits ini dhoif sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam Irwa’ul Gholil. Wallohu a’lam.
Makna
Ucapan Bismillaahirrohmanirrohiim :
- Kata “bismi
” yang diawali dengan huruf jarr (isim majrur) terkait dengan sesuatu yang dihapus, yaitu Fi’il Khos Muakhor (fi’il yang diakhirkan) yang sesuai untuk setiap keadaan.
- Contoh : Saya menulis è Bismillaahi
aktubu atau aktubu bismillaah ? è Jawaban yang benar sesuai kaidah nahwu adalah bismillaahi aktubu.
Faidah
penting dimulainya sesuatu dengan ucapan bismillaah
:
1. untuk tabarruk
(mencari keberkahan, yaitu kebaikan yang banyak dan terus menerus ada) dengan
nama Alloh. Maka, ketika hendak ber-aktivitas yang dibaca adalah bismillaahi aktubu bukan aktubu bismillaah sebab seagala aktivitas harus dimulai
dengan ucapan bismillaah untuk tabaruk.
2. untuk isti’anah
billah (meminta pertolongan kepada Alloh). Dari sisi bahasa dikedepankan bismillaah terlebih dahulu daripada aktubu maknanya sebagai pembatasan
(Al-Hasr).
Contoh : Iyya kana' budu wa
iyya kanasta'in (Hanya Engkaulah yang kami ibadahi dan hanya kepada
Engkaulah kami mohon pertolongan). Artinya kita meminta pertolongan hanya
kepada Alloh dan beribadah hanya kepada-NYA yang dari situ makna bismillaah adalah isti’anah. Kalau dibalik menjadi “na’budu iyyaka” atau “nasta’inu
iyyaka” artinya berarti tidak ada pembatasan dalam
beribadah dan memohon pertolongan.
Peringatan
Memulai amalan atau aktivitas kita selalu membutuhkan pertolongan Alloh dan meminta pertolongan kepada selain Alloh dalam perkara yang hanya Alloh saja yang mampu melakukannya, maka termasuk kesyirikan ;
Ketika kita memulai suatu amalan dengan basmallah, berarti peringatan bagi kita bahwa dalam melaksanakan amalan harus sesuai dengan syari’at Alloh. Jika kita mau belajar, maka iringilah dengan ketaqwaan karena ketaqwaan merupakan salah satu syarat dalam meraih ilmu. Jika seseorang bermaksiat, maka tidak akan ditolong oleh Alloh. Al Imam Asy-Syafi’i rohimahulloh berkata,
شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي
“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa lmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.”
(I’anatuth Tholibin, 2: 190)
[Faidah dari
Al-Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray hafizhohulloh]
Rekaman Tsalatsatul Ushul lainnya :
- Al Ustadz Sofyan Chalid Ruray
NB :
Mendatangi langsung majelis ilmu tetap yang lebih baik dan lebih utama.
_________________________________________________________________________

Tidak ada komentar:
Posting Komentar