بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
... Catatan Dars ...
- ‘Ali
bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Mencintai orang yang berilmu adalah
termasuk agama (ibadah).”
- Pada
atsar : “Jadilah
engkau seorang yang ‘alim (berilmu), muta’allim (orang yang belajar), mustami’
(orang yang mendengar ilmu), atau muhhib (orang yang cinta kepada mereka), dan jangan menjadi yang ke-5 sebab engkau
akan binasa.”
Lanjutan hadits :
“….
Sesungguhnya keutamaan seorang ‘alim (ulama) dibandingkan seorang ‘abid (ahli
ibadah), seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang ….”
- Orang
yang ahli ibadah, manfaatnya hanya untuk dirinya sendiri. Ada pun orang yang
berilmu manfaatnya tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang
lain dan seluruh makhluk. Sikap yang terbaik adalah menggabungkan keduanya dan
hal ini tampak pada para ‘ulama dimana mereka menggabungkan ilmu dengan ibadah
sehingga kedudukan mereka lebih agung apabila dibandingkan dengan para ‘ulama
yang hanya ahli ibadah saja, seperti Imam Ahmad, Sufyan At Tsauri, Al Auza’i,
Imam Malik, Imam Syafi’i rohimahumulloh.
- Secara
umum, mempelajari ilmu lebih baik daripada sebagian bentuk ibadah. Sebagaimana
yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu, “Mempelajari
agama ini sesaat, lebih aku sukai daripada sholat semalam suntuk hingga subuh.
”
- Berkata
Al Hasan Al Bashri rohimahulloh, ”Mempelajari
1 bab ilmu, lalu aku ajarkan kepada seorang muslim lebih aku cintai daripada
dunia dan seluruhnya yang aku infakkan di jalan Alloh.”
- Dalam
sebuah sya’ir sebagian ‘ulama berkata, “Pena-pena
yang ditulis oleh para ‘ulama, tinta dari pena itu lebih mulia, lebih suci
daripada darah orang yang mati syahid”. Maksudnya keutamaan orang yang mati
syahid hanya untuk dirinya sendiri."
- Al Imam
Asy Syaif’i rohimahulloh berkata, “Menuntut
ilmu lebih afdhol daripada sholat sunnah.”
- Suatu
hari Imam Malik rohimahulloh didalam majelisnya melihat sebagian muridnya
menulis ilmu. Lalu, murid tersebut pergi
untuk mengerjakan sholat. Imam Malik pun berkata, “Engkau
sungguh aneh! Engkau kerjakan sesuatu dan engkau tinggalkan sesuatu yang lebih
afdhol daripada yang engkau kerjakan. ”
- Imam
Ahmad rohimahulloh berkata, “Ilmu
tidak akan bisa dibandingkan dengan sesuatu apa pun.”
"....
Sesungguhnya para 'ulama adalah pewaris para Nabi. Dan sesungghnya para Nabi
tidak mewariskan dinar ataupun dirham. tetapi, mereka hanya mewariskan ilmu.
...."
- Warisan
yang dimaksud dalam hadits diatas tidak sama dengan warisan manusia. Harta
dibagi dan manfaatnya hanya terbatas kepada orang yang dibagikan. Ada pun
warisan ilmu berbeda dengan warisan harta. Oleh karena itu, Rosululloh
Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya para Nabi tidak
mewariskan dinar ataupun dirham.”
- Ibnu
Qoyyim Al Jauziah rohimahulloh dalam Miftah Daar As-Sa’adah menjelaskan 40 sisi
perbandingan ilmu dengan harta. Beliau membawakan ucapan dari ‘Ali bin Abi
Tholib rodhiyallohu ‘anhu,
“Ilmu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu sedangkan kamulah yang akan menjaga harta. Ilmu itu hakim (yang memutuskan berbagai perkara), sedangkan harta adalah yang dihakimi. Telah mati para penyimpan harta dan tersisalah para pemilik ilmu, walaupun diri-diri mereka telah tiada, akan tetapi pribadi-pribadi mereka tetap ada pada hati-hati manusia."
- Suatu hari Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu mendatangi sebuah pasar dan melihat kepada para penghuni pasar. Kemudian, beliau pun berkata, “Warisan nabi sedang dibagikan di masjid, sedangkan kalian masih berada disini.” Seketika itu juga semua orang yang berada di pasar pergi menuju masjid karena mengira bahwa warisan yang sedang dibagi oleh Nabi adalah harta. Sesampainya di masjid, mereka hanya bertemu dengan orang-orang yang sedang melakukan halaqoh. Mereka pun kembali dan bertanya kepada Abu Hurairoh, “Kami tidak menemukan apa pun disana.”. Abu Hurairoh pun berkata, “Itulah warisan para Nabi kalian.”
- Nabi
Daud dan Nabi Sulaiman ‘alaihimussalaam, tidak hanya mewarisi kekuasaan saja,
tetapi juga ilmu. Dalam kisah Nabi Sulaiman pun, hikmah (ilmu) beliau lebih
banyak disinggung dibandingkan dengan harta beliau.
- Nabi
Zakaria 'alaihissalaam memohon kepada Robb-nya, “Wahai, Robb-ku berikankanlah
kepadaku anak yang akan mewarisiku dan keluarga Yakub”. Nabi Yakub adalah
keturunan dari Nabi Ibrohim. Ketika beliau menyadari tidak ada yang mewarisi
ilmu darinya, maka beliau pun memohon anugerah seorang anak. Berbeda dengan
masa sekarang, ada yang ingin memiliki keturunan agar ada diantara keturunannya
yang mewarisi kekayaannya. Lebih dari itu, sesungguhnya terdapat kemaslahatan
agama dari hadirnya seorang anak, yaitu seperti apa yang dimohonkan oleh Nabi
Zakaria.
__TANYA
JAWAB__
1.)
Pertanyaan
:
Berkaitan
dengan adab-adab penuntut ilmu. Apakah mencatatnya ketika disampaikan pelajaran
adalah sesuatu yang wajib dilakukan?
Jawab :
Rosululloh
shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah ilmu dengan menulisnya”.
Ibarat seorang menangkap hewan buruan, jika sudah ditangkap, maka harus diikat.
Pada sebagian majelis para Salaf, tahapan-tahapan seorang yang datang dalam
mengambil ilmu berbeda-beda antara penuntut ilmu yang satu dengan yang
lainnya. Ada yang ketika di majelis
merunduk untuk mencatat, ada pula yang hanya melihat pada gurunya saja (tidak
mencatat). Alasannya penuntut ilmu yang hadir, dia sedang berada dalam
tingkatan untuk melihat (mempelajari) adab gurunya. Ada pun yang hadir, dia
sudah berada dalam tingkatan untuk mencatat ilmu. Sikap yang terbaik adalah
apabila dapat menggabungkan dua hal tersebut.
2.) Pertanyaan :
Banyak
orang berilmu yang menjadi ujub dan takabur dengan ilmunya. Apa solusinya?
Jawab :
Penyebab
seseorang menjadi ujub dan takabur dengan ilmunya karena ditinjau dari sisi
ilmu yang dia pelajari, dia hanya memahami ilmu dhohirnya saja (ilmu yang
berada diatas lisan, hanya sekedar mengetahui ini halal, itu haram) dan tidak memahami ilmu bathin (ilmu yang
berkaitan dengan hati yang membuahkan rasa takut, pengagungan, pembesaran,
kecintaan kepada Alloh, merasa dekat dan selalu rindu untuk beribadah kepada
Alloh).
Jika
seseorang memahami ilmu bathin, maka sifat-sifat seperti diatas tidak akan
muncul didalam dirinya. Apabila sifat-sifat (riya’, ujub, takabur) itu muncul,
berarti masih ada bentuk kejahilan dalam dirinya.
Solusinya
:
- Mengikhlaskan niat,
- Mengetahui bahwa itu semua semata-mata anugerah dari Alloh dan bukan karena kemampuan dan usaha kita semata,
- Membandingkan dengan kondisi para ‘ulama. Andaikata kita menjadi para penghafal yang baik di masa sekarang, boleh jadi kita akan terhitung sebagai rowi-rowi yang lemah jika kita hidup pada zamannya Imam Bukhory, sekalipun telah banyak hadits-hadits yang kita hafalkan.
- Memperbanyak rasa syukur kepada Alloh dengan semua anugerah dan nikmat yang Alloh berikan.
" Tidak
perlu seseorang itu merasa BANGGA
dengan apa yang dia miliki."
3.) Pertanyaan :
Bagaimana
mengamalkan ilmu supaya bisa ikhlas, adil, dan bijaksana?
Jawaban :
Caranya
adalah dengan duduk bersama guru yang lurus manhajnya, baik aqidahnya, bagus
dalam ilmunya. Dari situ, dia akan melihat bagaimana seorang ‘alim menerapkan
ilmunya sehingga menumbuhkan sikap adil dan bijaksana dalam amalannya. Cara yang lain adalah dengan memperbanyak
tafaqquh terhadap ayat-ayat Alloh dan
Sunnah Rosul-NYA.
Contoh :
Pada satu
pembahasan, dia hanya mengenal satu pendapat saja. Ketika ada yang beramal
degan pendapat lain, langsung dia ingkari dengan sangat keras sebab dia hanya
mengetahui satu pendapat saja. Ada pun
orang yang mengetahui bahwa dalam permasalahan tersebut terdapat 5 pendapat,
walaupun dia hanya berpegang dengan satu pendapat tertentu dengan dalilnya,
tetapi paling tidak dia akan pandai dalam mendudukan (menyikapi) orang yang
beramal dengan pendapat lain dan tetap menghormati dan menghargai pendapat lain
tersebut selama pendapat tersebut masuk dalam ranah ijtihad.
Orang yang memiliki wawasan luas, cara pandangnya akan semakin jeli dan pandai dalam melihat masalah. Misalnya, dalam suatu masalah dia bisa menilai bagaimana jenis masalah tersebut, bisa dimaafkan atau harus diingatkan, kekeliruannyanya mengeluarkan dari Sunnah atau tidak. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang baik dalam ilmunya.
4.) Pertanyaan :
Bolehkah
seseorang memberikan penilaian kepada orang-orang yang berilmu yang mereka
tidak mengamalkan ilmunya?
Jawaban :
Perbuatan
tersebut termasuk berprasangka buruk. Berbicara tentang orang yang berilmu
adalah hal yang tidak baik. Imam Abul Qasim Ali Ibnu ‘Asakir rohimahulloh
berkata,
"Sesungguhnya daging-daging para 'ulama -semoga Allah merahmati mereka- adalah beracun. Kebiasaan ALLOH yang menghinakan para penoda kehormatan mereka ('ulama) adalah suatu hal yang telah dimaklumi. Sebab, mencela mereka dalam hal yang mereka berlepas darinya adalah perkara yang sangat besar, menjamah kehormatan mereka dengan kepalsuan dan kebohongan adalah persemaian yang jelek, dan kedustaan terhadap orang yang Allah pilih guna menyandang ilmu adalah akhlak tercela.”
Jika ada
hal-hal yang kurang cocok dalam diri seorang penuntut ilmu berkaitan dengan
sesuatu yang diamalkan gurunya, tetapi yang disampaikannya itu benar. Sikap
kita yang terbaik adalah menyerahkan urusan tersebut kepada Alloh. Seorang
penuntut ilmu mengambil ilmu yang dapat mendekatkan dirinya kepada Alloh...
Oleh karena itu, hendaknya dia berbaik sangka…. menghormati gurunya... dan
tidak membiasakan dirinya dengan qila wa qola (dikatakan dan katanya)… banyak
mengkritik…. dan sebagainya."
5.) Pertanyaan
:
Apakah
makna dari ucapan ketika seorang penuntut ilmu akan diberikan petunjuk, maka
akan dibukakan baginya pintu kebaikan berikutnya dan seperti apakah contoh
realisasinya karena dari sebagian para penuntut ilmu fiqh rumah tangga,
realisasi yang terjadi bukannya semakin tercipta keharmonisan, tetapi justru
semakin banyak terjadi perselisihan?
Jawab :
Tidak
menyalahkan ilmunya, tapi menyalahkan dirinya sendiri. Barangkali dia telah
salah dalam memahami ilmu, atau keliru dalam menyampaikan ilmu, atau bisa juga
keliru dalam meniatkan dirinya mempelajari ilmu agama karena ilmu agama pasti
mengandung kebaikan didalamnya dan Alloh telah menjamin hal tersebut.
“Barangsiapa yang Alloh kehendaki kebaikan ……”
Jika
terjadi suatu masalah, maka dia mengintrospeksi dirinya dan mengulangi kembali
pelajaran yang telah berlalu. Jika dipelajari dengan benar, insya Alloh hal
tersebut akan membawa kebaikan baginya dan membuka pintu yang lainnya.Syaithon
sangat bersemangat untuk memalingkan para penuntut ilmu. Pada para penuntut
ilmu pemula, kadang-kadang ketika dia sedang belajar, Alloh memberikan ujian
kepadanya dan menjadi tidak sabar. Lalu, dia tinggalkan majelis ilmu. Harusnya
dia bersabar dan melihat pada masa mendatang kebenaran janji Alloh.
6.) Pertanyaan :
Bagaimana
memilih teman yang baik karena saya pernah tertipu. Penampilan sesuai sunnah,
manhaj sama, cara mendidik anak baik, tetapi dalam hal muamallah, dia
berkhianat dan menyebarkan fitnah?
Jawaban :
Manusia
yang hidup tidak ada yang aman dari fitnah. Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu
‘anhu berkata, “Jika kamu ingin mengambil
teladan, ambillah contoh orang-orang yang telah mati, sebab yang masih
hidup tidak aman dari fitnah”.
Seseorang
dinilai berdasarkan penampilan dhohirnya. Ada dari perkara-perkara dhohir yang
bisa diambil sebagai penilaian seseorang, misalnya dalam hal keseriusannya
dalam menuntut ilmu. Tidak hanya sekedar penampilannya yang mencocoki Sunnah,
tetapi ternyata tidak memiliki semangat atau malas mendatangi majelis ilmu yang
berarti dengan hal itu menandakan ada sesuatu yang kurang dari dirinya. Manusia
hanya memiliki penilaian saja, selebihnya menyerahkan kepada Alloh. Kalau ada
kejadian seperti itu, barangkali ada sunnah yang tidak dia terapkan.
Contoh :
Lupa
untuk istikhoroh sebelum muamallah. Jika urusannya itu baik, maka Alloh
mudahkan. Jika tidak baik, maka Alloh akan palingkan kepada urusan yang lain.
Pengalaman diatas sebaiknya tidak terlalu banyak dipikirkan karena akan
memberikan rasa was-was dan kadang memberi prasangka buruk kepada setiap orang
yang dijumpainya.
7.)
Pertanyaan
:
Bagaimana
kedudukan menuntut ilmu bagi perempuan? Apa syarat dalam menuntut ilmu sehingga
menjadi taufiq bagi dirinya dan rumah tangganya?
Jawab :
Tidak ada
perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam menuntut ilmu sebab menuntut
ilmu sama seperti ibadah lainnya. Alloh tidak memandang laki-laki atau
perempuan. Tapi, Alloh memandang kepada ketaqwaannya. Ketaqwaan itu beramal
dengan ilmu, mempelajari ilmu dan mengamalkannya.
Contoh :
‘Aisyah
rodhiyallohu ‘anha seorang shohabiyah, tapi dikalangan sahabat kedudukan beliau
lebih afdhol dari mereka. Kadang-kadang seorang wanita dari kalangan penuntut
ilmu lebih baik dari suaminya. Dalam Shohih Bukhory, Shohih Muslim, dan
buku-buku hadits lainnya terdapat riwayat dari Urwah Ibnu Zubair yang
meriwayatkan dari istrinya Fathimah binti Mundzir.
" Sebenarnya keberhasilan
banyak berhubungan dengan keseriusan. Orang yang dimudahkan jalannya dalam menuntut ilmu, mendapatkan guru yang
bagus, memiliki waktu lapang, dan memiliki keleluasaan dalam menuntut ilmu
merupakan sebab dimudahkannya seseorang dalam menuntut ilmu...Terkadang,
ada diantara manusia yang memiliki waktu luang, fasilitas bagus, tetapi dengan
gurunya tidak cocok. Ada pula yang dengan gurunya sudah cocok, tapi ternyata
dia disibukkan dengan berbagai macam urusan. Kalau
kita memohon kemudahan kepada Alloh dengan jujur, insya Alloh akan dimudahkan
jalan kita dalam belajar. "
Termasuk
pernyataan yang tidak benar jika ibu rumah tangga menganggap pekerjaan ibu
rumah tangga menghambat dirinya untuk belajar atau tidak bisa belajar. Bukan
tidak bisa belajar, hanya saja dia belum menemukan cara yang benar dalam
belajar.
- Dalam sejarah para ‘ulama dahulu, diantara mereka ada yang memiliki pekerjaan dan diantaranya :
- Dalam sejarah para ‘ulama dahulu, diantara mereka ada yang memiliki pekerjaan dan diantaranya :
- Muhadits dan imam tabi’in yang banyak meriwayatkan hadits dari sahabat yang pekerjaan beliau sebagai penjual minyak dan mentega (nama kun-yah Abu Sholih, nama beliau Ad-Dzakwan)
- Guru Imam Muslim, yaitu Al hasan bin Ali Al Hulwany seorang penjual kue
- Guru Imam Al Hakim, yaitu Al-Saidalani seorang apoteker
- Janganlah menganggap pekerjaan sebagai hambatan dalam menuntut ilmu. Justru yang sebenarnya menghambat adalah apabila seseorang menganggapnya sebagai hambatan. Sikap yang terbaik adalah menerima semua itu sebagai ketentuan Alloh. Jika dia memiliki tanggungan keluarga, maka dia menganggapnya sebagai amanah yang menjadi pembuka pintu ibadah untuknya. Lalu, dia hadirkan rasa qona’ah dalam dirinya terhadap apa yang dia dapatkan, dia luangkan waktunya untuk menuntut ilmu, dan yang lebih penting lagi sesuatu yang dapat menjadi taufiq baginya dalam belajar adalah menanamkan keagungan dan kebesaran ilmu dalam dirinya sehingga jika dua hal itu tertanam dengan baik dan dia pahami, maka seseorang akan menemukan jalannya dalam menuntut ilmu.
8.) Pertanyaan :
Dalam
proses belajar, bagaimana agar kita terbimbing kepada ilmu yang bermanfaat dan
ilmu yang tidak bermanfaat?
Jawab :
Ilmu
terbagi menjadi dua, yaitu ilmu yang sifatnya fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.
Kita melihat dari ilmu yang sifatnya fardhu ‘ain tersebut apa saja yang belum
kita ketahui. Ilmu yang sifatnya wajib dipelajari oleh setiap muslim dan
muslimah, itulah yang kita dahulukan sehingga jika kita baik dalam susunan
belajarnya, maka insya alloh ilmu akan mudah kita dapatkan.
9.) Pertanyaan :
Berkaitan
dengan seorang suami yang harus meminta izin terlebih dahulu untuk poligami.
Jawab :
Suami
tidak perlu meminta izin terlebih dahulu ketika hendak poligami karena poligami
adalah haknya dan telah Alloh halalkan. Seorang wanita hendaknya mengedepankan
sikap dan pikiran yang positif. Melakukan berbagai amalan kebaikan yang menjadi
ladang ibadah baginya. Meyakini bahwa Alloh tidak akan menelantarkan
hamba-hamba-NYA yang bertaqwa. Insya Alloh, dengan itu semua akan baik segala
urusannya.
Tidak perlu ada kekhawatiran dalam dirinya berkaitan dengan pelaksanaan Sunnah karena kekhawatiran dalam pelaksanaan Sunnah pada dasarnya berasal dari Syaithon.
10.) Pertanyaan :
Apa makna
hadits bahwa orang yang paling berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari
fitnah?
Jawab :
Hadits
tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud. Dari Al Miqdad bin Al Aswad radhiyallahu
'anhu, beliau berkata,
“Demi Alloh! Aku telah mendengar Rosulullah shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah... Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah... Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah... Barangsiapa yang mendapat ujian lalu bersabar, maka alangkah bagusnya dirinya. "
Orang
yang terbebas dari fitnah, artinya Alloh menjaga dirinya dari segala fitnah.
Ada beberapa sebab sehingga Alloh menjaga dan melindungi dirinya dari berbagai
macam fitnah, yaitu :
- Berdoa kepad Alloh. Salah satu do’a memohon perlindungan dari fitnah, yaitu “Na’uudzu billaahi minal fitan, maa zhoharo minhaa wa maa bathona.” (Kami berlindung kepada Alloh dari segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi) ;
- Berpegang teguh kepada Kitabulloh dan Sunnah ;
- Menempuh jalan-jalan keselamatan yang Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhany radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,
“Wahai Rosulullah, apa yang dimaksud dengan jalan keselamatan itu?” Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jagalah lisan engkau, hendaknya engkau merasa lapang dengan rumahmu, dan tangisilah kesalahanmu.”
[Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dan selainnya, Shohih At-Targhib wa Tarhibdan Ash-Shahîhah].
11.) Pertanyaan
:
Ada
seorang wanita yang dijodohkan dan akan menikah bulan depan, tapi hatinya belum
mantap (masih ada keraguan). Apa yang yang sebaiknya ia lakukan? Menolak,
menerima, membatalkan, ataukah mengundurnya?
Jawaban :
Harus
dilihat apa yang menjadi sebab keraguan hatinya. Jika penyebab keraguannya
sesuai syari’at (ada pelanggaran syari’at), maka tidak masalah dia mundur. Ada
pun sekedar keraguan yang tidak berdasar, terlebih keraguannya hanya karena
masalah dunia, padahal laki-laki tersebut agamanya baik, maka yang seperti ini
jangan dipikirkan.
Pernikahan adalah mahkota yang indah bagi seorang wanita, kemuliaan dirinya dan lahan ibadah baginya sehingga kapan pun Alloh subhaanahu wa Ta’ala memuliakan dirinya dengan hal itu, hendaknya dia bersyukur dan banyak meminta pertimbangan kepada orang-orang berilmu yang mengerti keadaan laki-laki yang akan menikahinya serta memperbanyak do’a memohon kepada Alloh.
____SELESAI___
Nasihat Ustadz dalam Majelis Ilmu Lainnya,
"Seorang penuntut ilmu,
jangan hanya sekedar bersemangat saja hadir di majelis ilmu. Jangan hanya
sekedar jasadnya yang hadir, Tapi, yang terpenting adalah ilmunya bertambah.
Sepuluh tahun kemudian masih belajar, tapi bahasa Arab tidak paham, Ushul Fiqih
juga tidak paham. Seharusnya seseorang itu berusaha untuk membuat dirinya
berkembang. Tidak hanya “diam” ditempat saja. ”
“Ada orang yang hari ini belajar,
besok belajar, hingga sepuluh tahun kemudian masih belajar. Tapi, ketika dia
memeriksa keadaannya hari ini dengan dahulu, SAMA SAJA.”
" Seorang hamba yang
mengagungkan ilmu, dia selau menjadikan ilmu tersebut sebagai lahan untuk
mendekatkan dirinya kepada ALLOH. Ketika dia bersemangat, maka dia menuntut
ilmu. Ketika semangatnya turun, maka dia tetap menuntut ilmu."
" Ada sebagian orang yang
ketika semangat belajarnya turun, ia keluar dari jalan menuntut ilmu. Ia rusak
ilmu yang sudah ia pelajari. Ia rusak pula orang yang menuntut ilmu dengan
membaca atau mendengarkan sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Jika dia mempunyai
semangat yang baik terhadap ilmu, maka begitu ia melihat hal-hal yang merusak,
niscaya akan dia buang perkara yang tidak ada manfaatnya tersebut. "
" HASAD adalah penyakit yang
tidak hanya menimpa orang awam, tapi juga para PENUNTUT ILMU. Hendaknya
seseorang meluruskan niatnya hanya karena ALLOH. Sebanyak apa pun pujian dan
rekomendasi orang lain, tidak menjadi jaminan dia bisa memasuki Surga karena
yang menjadikan dia bisa memasuki surga adalah amalannya."
Demikian yang dapat saya tulis. Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat terkhusus bagi saya pribadi. Dan semoga Alloh Ta'ala senantiasa memberikan kepada kita semangat untuk terus mempelajari agama ini, memudahkan kita dalam memahami dan mengamalkannya, meringankan hati-hati kita untuk melangkah ke majelis ilmu, dan menjadikan ilmu tersebut sebagai sebab keberkahan kehidupan kita di dunia maupun di akhirat kelak.
__________________________________________________________
[Faidah dari Al Ustadz Dzulqarnain hafizhahulloh, “Warisan Terindah Mutiara Ilmu Imam Ibnu Rojab Menerangkan Warisan Para Nabi”, Bagian 2, @Syiar Tauhid]







Tidak ada komentar:
Posting Komentar