Kamis, 21 November 2013

Nasihat dikala Berkurangnya Semangat dalam Belajar : "Warisan Terindah Mutiara Ilmu Imam Ibnu Rojab Menerangkan Warisan Para Nabi (2) "


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ



... Catatan Dars ...


- ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Mencintai orang yang berilmu adalah termasuk agama (ibadah).”

- Pada atsar : “Jadilah engkau seorang yang ‘alim (berilmu), muta’allim (orang yang belajar), mustami’ (orang yang mendengar ilmu), atau muhhib (orang yang cinta kepada mereka),  dan jangan menjadi yang ke-5 sebab engkau akan binasa.”



Lanjutan hadits :

“…. Sesungguhnya keutamaan seorang ‘alim (ulama) dibandingkan seorang ‘abid (ahli ibadah), seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang ….”


- Orang yang ahli ibadah, manfaatnya hanya untuk dirinya sendiri. Ada pun orang yang berilmu manfaatnya tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain dan seluruh makhluk. Sikap yang terbaik adalah menggabungkan keduanya dan hal ini tampak pada para ‘ulama dimana mereka menggabungkan ilmu dengan ibadah sehingga kedudukan mereka lebih agung apabila dibandingkan dengan para ‘ulama yang hanya ahli ibadah saja, seperti Imam Ahmad, Sufyan At Tsauri, Al Auza’i, Imam Malik, Imam Syafi’i rohimahumulloh.

- Secara umum, mempelajari ilmu lebih baik daripada sebagian bentuk ibadah. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu, “Mempelajari agama ini sesaat, lebih aku sukai daripada sholat semalam suntuk hingga subuh. ”

 - Berkata Al Hasan Al Bashri rohimahulloh, ”Mempelajari 1 bab ilmu, lalu aku ajarkan kepada seorang muslim lebih aku cintai daripada dunia dan seluruhnya yang aku infakkan di jalan Alloh.”

 - Dalam sebuah sya’ir sebagian ‘ulama berkata, “Pena-pena yang ditulis oleh para ‘ulama, tinta dari pena itu lebih mulia, lebih suci daripada darah orang yang mati syahid”. Maksudnya keutamaan orang yang mati syahid hanya untuk dirinya sendiri."

- Al Imam Asy Syaif’i rohimahulloh berkata, “Menuntut ilmu lebih afdhol daripada sholat sunnah.”

- Suatu hari Imam Malik rohimahulloh didalam majelisnya melihat sebagian muridnya menulis ilmu. Lalu,  murid tersebut pergi untuk mengerjakan sholat. Imam Malik pun berkata, “Engkau sungguh aneh! Engkau kerjakan sesuatu dan engkau tinggalkan sesuatu yang lebih afdhol daripada yang engkau kerjakan. ”

 - Imam Ahmad rohimahulloh berkata, “Ilmu tidak akan bisa dibandingkan dengan sesuatu apa pun.”





".... Sesungguhnya para 'ulama adalah pewaris para Nabi. Dan sesungghnya para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham. tetapi, mereka hanya mewariskan ilmu. ...."

- Warisan yang dimaksud dalam hadits diatas tidak sama dengan warisan manusia. Harta dibagi dan manfaatnya hanya terbatas kepada orang yang dibagikan. Ada pun warisan ilmu berbeda dengan warisan harta. Oleh karena itu, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham.”

- Ibnu Qoyyim Al Jauziah rohimahulloh dalam Miftah Daar As-Sa’adah menjelaskan 40 sisi perbandingan ilmu dengan harta. Beliau membawakan ucapan dari ‘Ali bin Abi Tholib rodhiyallohu ‘anhu,



“Ilmu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu sedangkan kamulah yang akan menjaga harta. Ilmu itu hakim (yang memutuskan berbagai perkara), sedangkan harta adalah yang dihakimi. Telah mati para penyimpan harta dan tersisalah para pemilik ilmu, walaupun diri-diri mereka telah tiada, akan tetapi pribadi-pribadi mereka tetap ada pada hati-hati manusia."



- Suatu hari Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu mendatangi sebuah pasar dan melihat kepada para penghuni pasar. Kemudian, beliau pun berkata, “Warisan nabi sedang dibagikan di masjid, sedangkan kalian masih berada disini.” Seketika itu juga semua orang yang berada di pasar pergi menuju masjid karena mengira bahwa warisan yang sedang dibagi oleh Nabi adalah harta. Sesampainya di masjid, mereka hanya bertemu dengan orang-orang yang sedang melakukan halaqoh. Mereka pun kembali dan bertanya kepada Abu Hurairoh, “Kami tidak menemukan apa pun disana.”. Abu Hurairoh pun berkata, “Itulah warisan para Nabi kalian.”

- Nabi Daud dan Nabi Sulaiman ‘alaihimussalaam, tidak hanya mewarisi kekuasaan saja, tetapi juga ilmu. Dalam kisah Nabi Sulaiman pun, hikmah (ilmu) beliau lebih banyak disinggung dibandingkan dengan harta beliau.

- Nabi Zakaria 'alaihissalaam memohon kepada Robb-nya, “Wahai, Robb-ku berikankanlah kepadaku anak yang akan mewarisiku dan keluarga Yakub”. Nabi Yakub adalah keturunan dari Nabi Ibrohim. Ketika beliau menyadari tidak ada yang mewarisi ilmu darinya, maka beliau pun memohon anugerah seorang anak. Berbeda dengan masa sekarang, ada yang ingin memiliki keturunan agar ada diantara keturunannya yang mewarisi kekayaannya. Lebih dari itu, sesungguhnya terdapat kemaslahatan agama dari hadirnya seorang anak, yaitu seperti apa yang dimohonkan oleh Nabi Zakaria.




__TANYA JAWAB__

1.)


Pertanyaan :
Berkaitan dengan adab-adab penuntut ilmu. Apakah mencatatnya ketika disampaikan pelajaran adalah sesuatu yang wajib dilakukan?

Jawab :
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah ilmu dengan menulisnya”. Ibarat seorang menangkap hewan buruan, jika sudah ditangkap, maka harus diikat. Pada sebagian majelis para Salaf, tahapan-tahapan seorang yang datang dalam mengambil ilmu berbeda-beda antara penuntut ilmu yang satu dengan yang lainnya.  Ada yang ketika di majelis merunduk untuk mencatat, ada pula yang hanya melihat pada gurunya saja (tidak mencatat). Alasannya penuntut ilmu yang hadir, dia sedang berada dalam tingkatan untuk melihat (mempelajari) adab gurunya. Ada pun yang hadir, dia sudah berada dalam tingkatan untuk mencatat ilmu. Sikap yang terbaik adalah apabila dapat menggabungkan dua hal tersebut.




2.) Pertanyaan :
Banyak orang berilmu yang menjadi ujub dan takabur dengan ilmunyaApa solusinya?

Jawab :
Penyebab seseorang menjadi ujub dan takabur dengan ilmunya karena ditinjau dari sisi ilmu yang dia pelajari, dia hanya memahami ilmu dhohirnya saja (ilmu yang berada diatas lisan, hanya sekedar mengetahui ini halal, itu haram) dan  tidak memahami ilmu bathin (ilmu yang berkaitan dengan hati yang membuahkan rasa takut, pengagungan, pembesaran, kecintaan kepada Alloh, merasa dekat dan selalu rindu untuk beribadah kepada Alloh).

Jika seseorang memahami ilmu bathin, maka sifat-sifat seperti diatas tidak akan muncul didalam dirinya. Apabila sifat-sifat (riya’, ujub, takabur) itu muncul, berarti masih ada bentuk kejahilan dalam dirinya.

Solusinya :
  1. Mengikhlaskan niat,
  2. Mengetahui bahwa itu semua semata-mata anugerah dari Alloh dan bukan karena kemampuan dan usaha kita semata,
  3. Membandingkan dengan kondisi para ‘ulama. Andaikata kita menjadi para penghafal yang baik di masa sekarang, boleh jadi kita akan terhitung sebagai rowi-rowi yang lemah jika kita hidup pada zamannya Imam Bukhory, sekalipun telah banyak hadits-hadits yang kita hafalkan.
  4. Memperbanyak rasa syukur kepada Alloh dengan semua anugerah dan nikmat yang Alloh berikan.




" Tidak perlu seseorang itu merasa BANGGA 
dengan apa yang dia miliki."




3.) Pertanyaan :
Bagaimana mengamalkan ilmu supaya bisa ikhlas, adil, dan bijaksana?

Jawaban :
Caranya adalah dengan duduk bersama guru yang lurus manhajnya, baik aqidahnya, bagus dalam ilmunya. Dari situ, dia akan melihat bagaimana seorang ‘alim menerapkan ilmunya sehingga menumbuhkan sikap adil dan bijaksana dalam amalannya.  Cara yang lain adalah dengan memperbanyak tafaqquh terhadap  ayat-ayat Alloh dan Sunnah Rosul-NYA.

Contoh :
Pada satu pembahasan, dia hanya mengenal satu pendapat saja. Ketika ada yang beramal degan pendapat lain, langsung dia ingkari dengan sangat keras sebab dia hanya mengetahui satu pendapat saja.  Ada pun orang yang mengetahui bahwa dalam permasalahan tersebut terdapat 5 pendapat, walaupun dia hanya berpegang dengan satu pendapat tertentu dengan dalilnya, tetapi paling tidak dia akan pandai dalam mendudukan (menyikapi) orang yang beramal dengan pendapat lain dan tetap menghormati dan menghargai pendapat lain tersebut selama pendapat tersebut masuk dalam ranah ijtihad.

Orang yang memiliki wawasan luas, cara pandangnya akan semakin jeli dan pandai dalam melihat masalah. Misalnya, dalam suatu masalah dia bisa menilai bagaimana jenis masalah tersebut, bisa dimaafkan atau harus diingatkan, kekeliruannyanya mengeluarkan dari Sunnah atau tidak. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang baik dalam ilmunya.





4.) Pertanyaan :
Bolehkah seseorang memberikan penilaian kepada orang-orang yang berilmu yang mereka tidak mengamalkan ilmunya?

Jawaban :
Perbuatan tersebut termasuk berprasangka buruk. Berbicara tentang orang yang berilmu adalah hal yang tidak baik. Imam Abul Qasim Ali Ibnu ‘Asakir rohimahulloh berkata,


"Sesungguhnya daging-daging para 'ulama -semoga Allah merahmati mereka- adalah beracun. Kebiasaan ALLOH yang menghinakan para penoda kehormatan mereka ('ulama) adalah suatu hal yang telah dimaklumi. Sebab, mencela mereka dalam hal yang mereka berlepas darinya adalah perkara yang sangat besar, menjamah kehormatan mereka dengan kepalsuan dan kebohongan adalah persemaian yang jelek, dan kedustaan terhadap orang yang Allah pilih guna menyandang ilmu adalah akhlak tercela.”


Jika ada hal-hal yang kurang cocok dalam diri seorang penuntut ilmu berkaitan dengan sesuatu yang diamalkan gurunya, tetapi yang disampaikannya itu benar. Sikap kita yang terbaik adalah menyerahkan urusan tersebut kepada Alloh. Seorang penuntut ilmu mengambil ilmu yang dapat mendekatkan dirinya kepada Alloh... Oleh karena itu, hendaknya dia berbaik sangka…. menghormati gurunya... dan tidak membiasakan dirinya dengan qila wa qola (dikatakan dan katanya)… banyak mengkritik…. dan sebagainya."




5.) Pertanyaan :
Apakah makna dari ucapan ketika seorang penuntut ilmu akan diberikan petunjuk, maka akan dibukakan baginya pintu kebaikan berikutnya dan seperti apakah contoh realisasinya karena dari sebagian para penuntut ilmu fiqh rumah tangga, realisasi yang terjadi bukannya semakin tercipta keharmonisan, tetapi justru semakin banyak terjadi perselisihan?

Jawab :
Tidak menyalahkan ilmunya, tapi menyalahkan dirinya sendiri. Barangkali dia telah salah dalam memahami ilmu, atau keliru dalam menyampaikan ilmu, atau bisa juga keliru dalam meniatkan dirinya mempelajari ilmu agama karena ilmu agama pasti mengandung kebaikan didalamnya dan Alloh telah menjamin hal tersebut. “Barangsiapa yang Alloh kehendaki kebaikan ……”

Jika terjadi suatu masalah, maka dia mengintrospeksi dirinya dan mengulangi kembali pelajaran yang telah berlalu. Jika dipelajari dengan benar, insya Alloh hal tersebut akan membawa kebaikan baginya dan membuka pintu yang lainnya.Syaithon sangat bersemangat untuk memalingkan para penuntut ilmu. Pada para penuntut ilmu pemula, kadang-kadang ketika dia sedang belajar, Alloh memberikan ujian kepadanya dan menjadi tidak sabar. Lalu, dia tinggalkan majelis ilmu. Harusnya dia bersabar dan melihat pada masa mendatang kebenaran janji Alloh.




6.) Pertanyaan :
Bagaimana memilih teman yang baik karena saya pernah tertipu. Penampilan sesuai sunnah, manhaj sama, cara mendidik anak baik, tetapi dalam hal muamallah, dia berkhianat dan menyebarkan fitnah?

Jawaban :
Manusia yang hidup tidak ada yang aman dari fitnah. Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Jika kamu ingin mengambil  teladan, ambillah contoh orang-orang yang telah mati, sebab yang masih hidup tidak aman dari fitnah”.

Seseorang dinilai berdasarkan penampilan dhohirnya. Ada dari perkara-perkara dhohir yang bisa diambil sebagai penilaian seseorang, misalnya dalam hal keseriusannya dalam menuntut ilmu. Tidak hanya sekedar penampilannya yang mencocoki Sunnah, tetapi ternyata tidak memiliki semangat atau malas mendatangi majelis ilmu yang berarti dengan hal itu menandakan ada sesuatu yang kurang dari dirinya. Manusia hanya memiliki penilaian saja, selebihnya menyerahkan kepada Alloh. Kalau ada kejadian seperti itu, barangkali ada sunnah yang tidak dia terapkan.

Contoh :
Lupa untuk istikhoroh sebelum muamallah. Jika urusannya itu baik, maka Alloh mudahkan. Jika tidak baik, maka Alloh akan palingkan kepada urusan yang lain. Pengalaman diatas sebaiknya tidak terlalu banyak dipikirkan karena akan memberikan rasa was-was dan kadang memberi prasangka buruk kepada setiap orang yang dijumpainya.




7.)

Pertanyaan :
Bagaimana kedudukan menuntut ilmu bagi perempuan? Apa syarat dalam menuntut ilmu sehingga menjadi taufiq bagi dirinya dan rumah tangganya?

Jawab :
Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam menuntut ilmu sebab menuntut ilmu sama seperti ibadah lainnya. Alloh tidak memandang laki-laki atau perempuan. Tapi, Alloh memandang kepada ketaqwaannya. Ketaqwaan itu beramal dengan ilmu, mempelajari ilmu dan mengamalkannya.

Contoh :
‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha seorang shohabiyah, tapi dikalangan sahabat kedudukan beliau lebih afdhol dari mereka. Kadang-kadang seorang wanita dari kalangan penuntut ilmu lebih baik dari suaminya. Dalam Shohih Bukhory, Shohih Muslim, dan buku-buku hadits lainnya terdapat riwayat dari Urwah Ibnu Zubair yang meriwayatkan dari istrinya Fathimah binti Mundzir.





" Sebenarnya keberhasilan banyak berhubungan dengan keseriusan. Orang yang dimudahkan jalannya dalam menuntut ilmu, mendapatkan guru yang bagus, memiliki waktu lapang, dan memiliki keleluasaan dalam menuntut ilmu merupakan sebab dimudahkannya seseorang dalam menuntut ilmu...Terkadang, ada diantara manusia yang memiliki waktu luang, fasilitas bagus, tetapi dengan gurunya tidak cocok. Ada pula yang dengan gurunya sudah cocok, tapi ternyata dia disibukkan dengan berbagai macam urusan. Kalau kita memohon kemudahan kepada Alloh dengan jujur, insya Alloh akan dimudahkan jalan kita dalam belajar. "





Termasuk pernyataan yang tidak benar jika ibu rumah tangga menganggap pekerjaan ibu rumah tangga menghambat dirinya untuk belajar atau tidak bisa belajar. Bukan tidak bisa belajar, hanya saja dia belum menemukan cara yang benar dalam belajar. 

- Dalam sejarah para ‘ulama dahulu, diantara mereka ada yang memiliki pekerjaan dan diantaranya :

  • Muhadits dan imam tabi’in yang banyak meriwayatkan hadits dari sahabat yang pekerjaan beliau sebagai penjual minyak dan mentega (nama kun-yah Abu Sholih, nama beliau Ad-Dzakwan)
  • Guru Imam Muslim, yaitu Al hasan bin Ali Al Hulwany seorang penjual kue
  • Guru Imam Al Hakim, yaitu Al-Saidalani seorang apoteker

- Janganlah menganggap pekerjaan sebagai hambatan dalam menuntut ilmu. Justru yang sebenarnya menghambat adalah apabila seseorang menganggapnya sebagai hambatan. Sikap yang terbaik adalah menerima semua itu sebagai ketentuan Alloh. Jika dia memiliki tanggungan keluarga, maka dia menganggapnya sebagai amanah yang menjadi pembuka pintu ibadah untuknya. Lalu, dia hadirkan rasa qona’ah dalam dirinya terhadap apa yang dia dapatkan, dia luangkan waktunya untuk menuntut ilmu, dan yang lebih penting lagi sesuatu yang dapat menjadi taufiq baginya dalam belajar adalah menanamkan keagungan dan kebesaran ilmu dalam dirinya sehingga jika dua hal itu tertanam dengan baik dan dia pahami, maka seseorang akan menemukan jalannya dalam menuntut ilmu.




8.) Pertanyaan :
Dalam proses belajar, bagaimana agar kita terbimbing kepada ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat?

Jawab :
Ilmu terbagi menjadi dua, yaitu ilmu yang sifatnya fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Kita melihat dari ilmu yang sifatnya fardhu ‘ain tersebut apa saja yang belum kita ketahui. Ilmu yang sifatnya wajib dipelajari oleh setiap muslim dan muslimah, itulah yang kita dahulukan sehingga jika kita baik dalam susunan belajarnya, maka insya alloh ilmu akan mudah kita dapatkan.




9.) Pertanyaan :
Berkaitan dengan seorang suami yang harus meminta izin terlebih dahulu untuk poligami.

Jawab :
Suami tidak perlu meminta izin terlebih dahulu ketika hendak poligami karena poligami adalah haknya dan telah Alloh halalkan. Seorang wanita hendaknya mengedepankan sikap dan pikiran yang positif. Melakukan berbagai amalan kebaikan yang menjadi ladang ibadah baginya. Meyakini bahwa Alloh tidak akan menelantarkan hamba-hamba-NYA yang bertaqwa. Insya Alloh, dengan itu semua akan baik segala urusannya.

Tidak perlu ada kekhawatiran dalam dirinya berkaitan dengan pelaksanaan Sunnah karena kekhawatiran dalam pelaksanaan Sunnah pada dasarnya berasal dari Syaithon.






10.) Pertanyaan :
Apa makna hadits bahwa orang yang paling berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah?

Jawab :
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud. Dari Al Miqdad bin Al Aswad radhiyallahu 'anhu, beliau berkata,


“Demi Alloh! Aku telah mendengar Rosulullah shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah... Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah... Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah... Barangsiapa yang mendapat ujian lalu bersabar, maka alangkah bagusnya dirinya. "


Orang yang terbebas dari fitnah, artinya Alloh menjaga dirinya dari segala fitnah. Ada beberapa sebab sehingga Alloh menjaga dan melindungi dirinya dari berbagai macam fitnah, yaitu :

  1. Berdoa kepad Alloh. Salah satu do’a memohon perlindungan dari fitnah, yaitu  “Na’uudzu billaahi minal fitan, maa zhoharo minhaa wa maa bathona.” (Kami berlindung kepada Alloh dari segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi) ;
  2. Berpegang teguh kepada Kitabulloh dan Sunnah ;
  3. Menempuh jalan-jalan keselamatan yang Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhany radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,

“Wahai Rosulullah, apa yang dimaksud dengan jalan keselamatan itu?” Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jagalah lisan engkau, hendaknya engkau merasa lapang dengan rumahmu, dan tangisilah kesalahanmu.”  

[Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dan selainnya, Shohih At-Targhib wa Tarhibdan Ash-Shahîhah].




11.)  Pertanyaan :
Ada seorang wanita yang dijodohkan dan akan menikah bulan depan, tapi hatinya belum mantap (masih ada keraguan). Apa yang yang sebaiknya ia lakukan? Menolak, menerima, membatalkan, ataukah mengundurnya?

Jawaban :
Harus dilihat apa yang menjadi sebab keraguan hatinya. Jika penyebab keraguannya sesuai syari’at (ada pelanggaran syari’at), maka tidak masalah dia mundur. Ada pun sekedar keraguan yang tidak berdasar, terlebih keraguannya hanya karena masalah dunia, padahal laki-laki tersebut agamanya baik, maka yang seperti ini jangan dipikirkan.

Pernikahan adalah mahkota yang indah bagi seorang wanita, kemuliaan dirinya dan lahan ibadah baginya sehingga kapan pun Alloh subhaanahu wa Ta’ala memuliakan dirinya dengan hal itu, hendaknya dia bersyukur dan banyak meminta pertimbangan kepada orang-orang berilmu yang mengerti keadaan laki-laki yang akan menikahinya serta memperbanyak do’a memohon kepada Alloh.


____SELESAI___




Nasihat Ustadz dalam Majelis Ilmu Lainnya,



"Seorang penuntut ilmu, jangan hanya sekedar bersemangat saja hadir di majelis ilmu. Jangan hanya sekedar jasadnya yang hadir, Tapi, yang terpenting adalah ilmunya bertambah. Sepuluh tahun kemudian masih belajar, tapi bahasa Arab tidak paham, Ushul Fiqih juga tidak paham. Seharusnya seseorang itu berusaha untuk membuat dirinya berkembang. Tidak hanya “diam” ditempat saja. ”


“Ada orang yang hari ini belajar, besok belajar, hingga sepuluh tahun kemudian masih belajar. Tapi, ketika dia memeriksa keadaannya hari ini dengan dahulu, SAMA SAJA.”



" Seorang hamba yang mengagungkan ilmu, dia selau menjadikan ilmu tersebut sebagai lahan untuk mendekatkan dirinya kepada ALLOH. Ketika dia bersemangat, maka dia menuntut ilmu. Ketika semangatnya turun, maka dia tetap menuntut ilmu."


" Ada sebagian orang yang ketika semangat belajarnya turun, ia keluar dari jalan menuntut ilmu. Ia rusak ilmu yang sudah ia pelajari. Ia rusak pula orang yang menuntut ilmu dengan membaca atau mendengarkan sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Jika dia mempunyai semangat yang baik terhadap ilmu, maka begitu ia melihat hal-hal yang merusak, niscaya akan dia buang perkara yang tidak ada manfaatnya tersebut. "


" HASAD adalah penyakit yang tidak hanya menimpa orang awam, tapi juga para PENUNTUT ILMU. Hendaknya seseorang meluruskan niatnya hanya karena ALLOH. Sebanyak apa pun pujian dan rekomendasi orang lain, tidak menjadi jaminan dia bisa memasuki Surga karena yang menjadikan dia bisa memasuki surga adalah amalannya."





Demikian yang dapat saya tulis. Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat terkhusus bagi saya pribadi. Dan semoga Alloh Ta'ala senantiasa memberikan kepada kita semangat untuk terus mempelajari agama ini, memudahkan kita dalam memahami dan mengamalkannya, meringankan hati-hati kita untuk melangkah ke majelis ilmu, dan menjadikan ilmu tersebut sebagai sebab keberkahan kehidupan kita di dunia maupun di akhirat kelak.



__________________________________________________________

[Faidah dari Al Ustadz Dzulqarnain hafizhahulloh, “Warisan Terindah Mutiara Ilmu Imam Ibnu Rojab Menerangkan Warisan Para Nabi”, Bagian 2, @Syiar Tauhid]

Tidak ada komentar: