بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
... Catatan Dars …
A,
Muqoddimah
- Bab dimana seharusnya kaum
muslimin mencurahkan perhatian dan merealisasikan perkara yang merupakan wasiat
Alloh dan Rosul-NYA. Bab yang kita diingatkan kembali bahwa bab ini merupakan wasilah
untuk meraih Jannah-NYA. Jika kita perhatikan perkara yang akan kita bahas ini, ternyata agama kita memposisikan mereka sebagai
orang-orang yang tidak hanya mendapat kecintaan saja, tetapi juga pembelaan,
yaitu BAB BIRRUL WALIDAIN. Kewajiban untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.
- Berkata
Imam Bukhory rohimahulloh dalam satu
ayat dari Suroh Al-Ahqof ayat 15, “Dan telah kami
wasiatkan kepada seluruh manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya.”
Ayat tersebut merupakan wasiat yang jika kita perhatikan para Nabi dan
salafus sholih, demikian besarnya birrul walidain mereka kepada kedua orang tua
mereka.
B. Hukum Panggilan “Ibu dan Bapak” kepada selain
Kedua Orang Tuanya
- Al-Walidain (berbuat baik kepada kedua
orang tua) maksudnya adalah berbuat baik kepada ayah dan ibunya.
- Ada sebuah
kesalahan yang merupakan kebiasaan di masyarakat kita, yaitu berkaitan dengan panggilan
seseorang kepada mertuanya/istrinya/suaminya, seperti panggilan dirinya kepada
ayah dan ibunya. Asalnya secara bahasa, memanggil ayah dan ibu kepada yang
bukan orang tua kita, apalagi secara makna, tidak akan pernah saling
berkesesuaian.
-
Demikianlah kadang kesalahan dalam makna Al-Walidain
dimana ada orang yang memposisikan mertuanya seakan dia memposisikan kedua orang
tuanya. Bahkan lebih mendahulukan mertuanya. Tentunya hal yang sangat perlu
diperhatikan bahwa keduanya sama-sama mempunyai hak yang perlu diperhatikan.
- Para ‘ulama
membenci memanggil ummi kepada yang bukan ibunya. Mereka tidak
suka memanggil istri atau mertuanya dengan panggilan ummi. Secara lughoh
(bahasa) memang benar untuk penghormatan. Tetapi, secara ma’nawiyah tidak
masuk. Sebagaimana Imam Abdurrohman bin
Nashr As-Sa’di rohimahulloh berkata,
“Merupakan hal yang dibenci dan ini merupakan perkara yang makruh, yaitu ketika seseorang memanggil istrinya dengan panggilan ummi.”
- Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa
sallam memanggil istrinya –‘Aisyah-, “Yaa ‘Ummu ‘Abdillah” sehingga ‘Aisyah
bisa membedakan mana yang ketika Rosululloh shollallohu
‘alaihi wa sallam sedang senang dan yang mana ketika Rosululloh sedang marah. Jadi, beliau kadang memanggilnya
dengan “Yaa ‘Aisyah” atau “Yaa ‘Ummu ‘Abdillah, atau dengan “Yaa Humairo.” Hal
yang seperti inilah yang sunnah dan tentunya memberikan panggilan kepada istri
dengan kata-kata atau cara yang terbaik. Walaupun adatnya memanggil istrinya
dengan sapaan “Ibu”, akan tetapi yang sunnahnya seperti apa yang Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa
sallam ajarkan. Demikian juga seorang istri memanggil suaminya dengan “Yaa Abi”.
Memang sesuai dengan adat yang berlaku, akan tetapi secara syar’i atau secara
ma’nawiyah hal itu tidaklah sesuai.
- Barangkali ada
yang berkata “Apalah arti sebuah panggilan”. Akan tetapi, akibat dari tidak tepatnya
menempatkan panggilan ketika bergaul. Betapa banyak orang yang memposisikan
mertuanya lebih tinggi dari kedua orang tuanya. Panggilan kepada istri dengan “ummi”
menjadikan seorang suami tunduk kepada istrinya padahal seorang suami adalah
pemimpin dalam rumah tangganya.
- Berkata Ibnu
Qoyyim Al-Jauziyah rohimahulloh,
“ Bahwasanya panggilan itu memiliki pengaruh.”
- Sekali
lagi, jika kita menganggap adat sudah seperti itu, maka alangkah lebih baiknya
jika kita mengganti sebagaimana yang Rosululloh
shollallohu ‘alaihi wa sallam ajarkan dan untuk menempuh sesuatu yang tidak memiliki
risiko atau tuntutan hukum dikemudian hari.
C. CAKUPAN BIRRUL WALIDAIN
- Orang
tua disini maksudnya adalah ayah dan ibu kandung. Dalam sebuah hadits,
Berkata Al-Imam Bukhory dengan menukilkan riwayat dari Abu ‘Amr Asy-Syaibani, beliau berkata telah menyampaikan kepada kami pemilik rumah ini seraya Abu ‘Amr Asy-Syaibani mengisyaratkan dengan tangannya kerumah ‘Abdulloh bin Mas’ud yang mana beliau berkata, “Aku bertanya kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengenai amalan apa yang paling dicintai Alloh ‘Azza wa Jalla (Yang Maha Mulia, Yang Maha Agung). Rosululloh pun menjawab, “Menunaikan sholat tepat pada waktunya.” Ibnu mas’ud berkata lagi, “kemudian apa lagi?” Rosululloh menjawab, “Engkau berbuat baik kepada kedua orang tuamu.” Ibnu Mas’ud berkata lagi, “Kemudian apa lagi?” Rosululloh menjawab, “Jihad dijalan Alloh”.
-
Perhatikan firman Alloh Ta’ala ini!
ووصينا الإنسان بوالديه حسن
Ada
kalimat “husna” yang merupakan
nakiroh (karena tidak ada alif lamnya). Dalam kosakata bahasa Arob dikenal ada
yang bersifat ma’rifat yaitu Al-Husna, ada yang nakiroh, yaitu husnan.
Berkata Ibnu Qoyyim rohimahulloh secara makna bahwa kalimat
nakiroh dalam Al Qur’an itu memiliki cakupan luas sesuai dengan kalimat yang
ada. Husna artinya kebaikan. Maksudnya semua yang memiliki nilai kebaikan.,
baik itu perkara dunia maupun diniyyah. Maka, “husna” disini maknanya wajib untuk memberikan kebaikan kepada
kedua orang tua, baik dalam perkara dunia maupun diniyyah.
- Jika
kita berharap orang tua kita bisa menjadi seorang yang muwahhid, ahlul jannah
sebagai bentuk realisasi kita mengamalkan sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, "Celakalah! Celakalah! Celakalah! Siapa saja yang
mendapati orang tuanya yang sudah tua atau salah satunya atau keduanya, namun
justru dia tidak masuk surga.".
- Jika kita berharap untuk sesuatu yang
besar kepada kedua orang tua kita dalam perkara diniyyah, maka demikian juga
terhadap perkara duniawi. Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan sebagaimana Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
Diriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, “Sesungguhnya ada seorang laki-laki datang ekpada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, kemudian bertanya, “Sesungguhnya aku mempunyai harta dan anak-anak, tetapi orang tuaku membutuhkan hartaku tersebut.” Selanjutnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu. …”
(HR.Ibnu Majah, No.2291)
Hadits ini menunjukkan bahwa ketika mengharapkan
suatu kebaikan, maka jadikanlah hal itu sebagai sesuatu yang akan membuka jalan
untuk tersampaikannya kebaikan untuk kedua orang tua kita juga.
- Jadi, kata
“Husna” (bentuk nakiroh) memberikan
makna adanya sebuah bimbingan yang sangat agung agar kita berusaha semampunya
memberikan yang terbaik untuk kedua orang tua kita. Bahkan kalau kita
perhatikan lafazh hadits Rosululloh
Shollallohu ‘alaihi wa sallam diatas “Kepada orang tuamulah
hendaknya kamu berjihad.” Apa arti jihad? Jihad adalah pengorbanan,
kesungguh-sungguhan.
D. HAL YANG MENUNJUKKAN AGUNGNYA BIRRUL
WALIDAIN
- Sebagaimana
ketika ada seseorang yang hendak berperang lalu dia meminta izin kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa
sallam, tapi oleg beliau orang itu dialihkan untuk berjihad kepada orang
tuanya. Menunjukkan makna yang sangat agung perkara berbakti kepada kedua orang
tua.
- Al Imam Ibnu Katsir rohimahulloh
berkata,
“Alloh perintahkan hambanya untuk berbuat baik kepada orang tuanya karena sebab kedua orang tuanya mereka terlahir ke dunia.”
- Berbuat
baik di sini baik dimasa hidup orang tua, maupun setelah wafatnya. Cakupan berbuat baik kepada orang
tua ini dikembalikan kepada dalil Al
Qur’an dan Hadits..
Anjuran berbuat baik kepada orang tua, Alloh sebutkan setelah kita berkomitmen
kepada tauhid yang benar dan jauh dari kesyirikan sebagaimana yang terdapat
dalam hadits. Setelah itu perkata selanjutnya yaitu kepada kedua orang tua. Hal
itu memiliki suatu hikmah dan menunjukkan posisi yang tinggi bagi orang tua karena
kedua orang tualah yang menjadi sebab kita ada diatas muka bumi.
- Jika
dia tidak mempunyai Bapak, Alloh sifatkan interaksi yang sangat indah untuk
kedua orang tuanya. Contoh : Nabi Isa
‘alaihissalam tidak mempunyai ayah, tapi mempunyai ibu. Alloh sifatkan
sebagaimana dalam Suroh Maryam
bagaimana perbuatan baik beliau dinisbatkan kepada ibunya, yaitu “ … yaitu orang yang berbuat baik kepada ibunya.”
- Ibnu Katsir rohimahulloh mengatakan,
“Seharusnya seseorang itu melakukan daya upaya sebatas yang dia mampu untuk memberikan kebaikan untuk kedua orang tuanya.”
- Kalau
di Arab Saudi birrul walidain-nya lebih baik lagi. Disana, senakal-nakalnya
anak, tidak berani mendahului kedua orang tua mereka. Ustadz bercerita ketika itu
Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr
sedang berjalan bersama anaknya, yaitu Syaikh
Abdurrozaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr dan kakeknya yang diatas
kursi roda. Syaikh Abdurrozaq berjalan bersama kakeknya sembari menuntun
ayahnya dan membawa kitab ayahnya yang hendak beliau pelajari Tatkala kami
ingin mengambil kitabnya. Ia melihat ke ayahnya dahulu dan berkata, “Ini ayahku
(maksudnya agar meminta izin kepada ayahnya)”. Bahkan ada yang sampai tidak
berani memasuki mobil sebelum orang tuanya masuk, mengambilkan makan,
menyiapkannya untuk orang tua mereka.
- Diantara
perkara lain yang menunjukkan wajibnya birrul walidain karena orang tua lah
yang memberikan tarbiyah untuk anak-anaknya. Seorang ayah bekerja mencari
nafkah untuk istri dan anaknya, seorang ibu memberikan kasih sayang untuk
anak-anaknya. Dua sifat
itulah yang menjadi sebab kita harus berbuat baik kepada kedua orang tua. Maka,
sudah sepantasnya para ‘ulama mengingatkan kita dengan sebuah sya’ir,
“ IBU adalah madrosah pertama bagi
anak-anaknya. Jika kamu
menyiapkannya dengan
baik, berarti kamu telah menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi
pekertinya. ”
[Dinukil oleh Syaikh Sholih Al-Fauzan hafidhohulloh dalam kitab “Makaanatul
mar'ati fil Islam”, hal. 5]
- Tidak
ada yang lebih tulus, lebih ikhlas memberikan perhatian melebihi perhatiannya
seorang ibu. Makna sifat seorang ibu itu bisa digambarkan sebagaimana kisahnya Imam Bukhory rohimahulloh dimana ibu beliau
terus mengajari beliau, walaupun dalam kondisi buta, mendo’akannya agar dapat
melihat lagi, dan mentarbiyah beliau dengan penuh kasih sayang karena memang
ayah beliau telah wafat. Oleh karena itu, ada sebuah hadits dimana Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mencela seorang ibu yang dari
hidung anaknya keluar sebuah kotoran dan si ibu tidak memiliki perhatian
terhadapnya.
Dari sini
pelajaran yang bisa kita ambil adalah ketika seorang anak mendapat perhatian
yang sewajarnya dari kedua orang tuanya sesuai syariat, maka hal tersebut akan
memberikan pengaruh bagi anaknya kelak yang -insya ALLOH- juga akan melakukan
perhatian yang sama,
Akan tetapi perhatian si anak ini tetap tidak akan bisa
dibandingkan dengan perhatian dan pengorbanan orang tua selama ini.
- Banyak
dari shiroh para salaf yang menyebutkan mereka mampu menghafal Al-Qur’an
melalui perantara ibunya. Jika kita perhatikan perkara ini dan merasa yakin
serta terus berupaya, maka -insya ALLOH- hal yang mustahil terjadi menjadi
kenyataan.
E.Tidak Ada Ketaatan Kepada Makhluk Dalam
Perkara Maksiat
-Alloh
subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan kami WASIATKAN
kepada manusia untuk berbuat baik kepada orang tuanya. ” dan mungkin ini sesuatu
yang berat untuk berbuat baik dalam keadaan orang tuanya musyrik.
-
Kadang-kadang jika kita tidak memahami aturan syari’at akan muncul banyak sekali
kesalahan dalam diri kita, semisal :
~ kepada
orang tua yang mungkin melakukan bid’ah, kita terapkan hajr (boikot),
~ dicap
mubtadi (pelaku bid’ah) karena tidak mau menerima Sunnah,
~ kita
anggap orang tua itu seperti kawan,
~ bersikap
keras dan kaku kepada orang tua.
~ dengan
teman berbuat loyal, memberi hadiah, mengunjungi, tapi kepada orang tua?
-
Termasuk salah satu budaya di Arab Saudi perkara menanyakan keadaan orang tua
ketika berjumpa dengan kawan mereka. Berbeda dengan di Indonesia yang hal itu
dianggap sebagai bentuk ingin tahu urusan orang lain atau hal yang
mencurigakan, dan semisalnya. Padahal hal seperti itu menunjukkan betapa mereka
sangat mengagungkan perkara birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang
tua).
- Nasihat
Ustadz :
" Ketika seseoang menginginkan kebaikan, maka lakukanlah
dengan sewajarnya. Barangkali kita merasa malu, sungkan, aneh perkara semisal
menanyakan kondisi orang tua teman yang kita jumpai, memberi hadiah kepada
orang tua kita, dan lain-lain. Insya ALLOH, jika hal itu biasa dilakukan akan
menjadi suatu hal yang mulia."
- Tidak
ada ketaatan kepada makluk dalam perkara yang menyelisihi Alloh dan Rosul-NYA,
seperti kisah Sa’ad bin Abi Waqqosh rodhiyallohu
‘anhu ketika dia masuk islam maka ibunya melakukan protes dengan bersumpah
tidak akan berbicara, tidak akan makan dan minum kalau anaknya tidak murtad.
Ibu beliau juga memberikan syubhat kepada anaknya, “Bukankah agamamu
mewasiatkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tuamu, dan aku ibumu dan aku
perintahkan engkau untuk kufur!” Tetapi, Sa’ad
bin Abi Waqqosh tetap pada agamanya dan tetap berbuat baik kepada orang
tuanya.
F. Penutup
- Ada
beberapa faidah penting yang bisa kita ambil dari pembahasan kali ini, yaitu :
1. Sholat
tepat pada waktunya adalah tuntutan yang memerlukan perhatian dan amalan yang
memiliki fadhilah yang besar dan Rosululloh
shollallohu ‘alaihi wa sallam selalu menjaga waktu sholat sampai digambarkan
oleh para sahabat bahwa beliau seakan melupakan lainnya.
2. Jihad
merupakan puncak agama, penjagaan kehormatan agama dan kaum muslimin
3. Hadits
tentang jawaban Rosululloh shollallohu
‘alaihi wa sallam ketika beliau ditanya amalan apa yang terbaik (sholat, birrul
walidain, dan jihad). Para ‘ulama berkata bahwa jawaban beliau terkadang
disesuaikan dengan :
1.)
Keadaan orang yang bertanya,
2.)
Kondisi waktu ketika itu. Ketika beliau ditanya amalan apa yang paling afdhol
saat wukuf di Arofah. Beliau menjawab, “membaca dzikir Laa ilaaha illallooh, wahdahu
laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai’in qadir.”
Demikian juga ketika beliau ditanya dalam kondisi berjihad, maka beliau jawab
sesuai kondisi ketika itu atau keadaan orang yang bertanya.
Wallohu a’lam
bish-showab.
[Faidah dari Al Ustadz Ali Basuki, Lc. hafizhohulloh
dalam Pembahasan Adabul Mufrod, 2010]
______________________________________________________________
Rekaman :




Tidak ada komentar:
Posting Komentar