بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
"...
Ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang ALLOH, sedangkan kecintaan yang
paling tinggi adalah kecintaan kepada-NYA. Sementara itu kelezatan yang paling
sempurna akan bisa digapai berbanding lurus dengan dua hal ini.”
[Al-Fawa’id,
hal. 52]
MASRUQ
rohimahulloh berkata,
“ Sekedar
dengan kualitas ilmu yang dimiliki seorang hamba, maka sekedar itulah rasa
takutnya kepada ALLOH. Dan sekedar tingkat kebodohannya, maka sekedar itulah
hilang rasa takutnya kepada ALLOH.”
[Syarh
Shohih Al Bukhory, Ibnu Baththol, 1/136]
---------------------------------------------------
Mengulang Materi Sebelumnya
- Makna basmallah ada 2, yaitu
- Untuk Tabarruk, yaitu memohon keberkahan (kebaikan yang terus-menerus)
- Untuk Isti’anah, yaitu memohon pertolongan
- Dalam
isti’anah ada 2 peringatan :
- Bahwasanya kita selalu butuh kepada Alloh sehingga harus mentauhidkan Alloh dalam isti’anah,
- Bahwasany didalam melakukan amalan tidak boleh menyelisishi syari’at Alloh karena Alloh tidak akan menolong hamba-NYA yang bermaksiat.
----------------------
A. MAKNA AR-ROHMAN DAN AR-ROHIIM DALAM
BASMALLAH
- Makna Alloh subhanahu wa Ta’ala yang
berasal dari kata Al-Illah è Zat yang disembah dengan penuh kecintaan dan
pengagungan.
- Makna Ar Rohman è Dzur
rohmahtil wasi’ah, yaitu pemilik rohmat yang luas, Ar-Rohman merupakan sifat dzatiyah,
yaitu sifat yang selalu melekat pada zat Alloh.
- Makna Ar Rohiim è Dzur rohmahtil wasilah, yaitu pemilik
rohmat yang selalu mencurahkan rohmatnya kepada siapa yang dia kehendaki dari
hamba-hamba-NYA dan ini merupakan sifat
fi’liyah (perbuatan Alloh)
- Alloh adalah asal dari semua nama nama Alloh subhanahu wa Ta’ala. Alloh
dan Ar-Rohman adalah nama khusus
bagi Alloh sehingga tidak boleh makhluk
menggunakan nama Alloh dan Ar-Rohman.
Contohnya
:
Mussailamah bin Habib yang menamakan
diirnya sebagai Rohman Yamamah yang dikemudian hari tidak dikenal sebagai Ar-Rohman, tapi dikenal dengan sebutan Al-Kadzhab (Si Pendusta) karena mengaku
sebagai Nabi. Yamamah adalah wilayah tempat tinggal Mussailamah.
- Ar-Rohiim è boleh digunakan kepada makhluk. Jadi, nama-nama Alloh ada
yang khusus bagi Alloh dan ada yang boleh
digunakan makhluk untuk menyifatkan dirinya. Dhobit-nya (batasan)
sesuai dalil. Kalau ada dalil yang membolehkan, baik di Al Qur’an maupun Hadits,
maka boleh makhluk bernama dengannya. Dalam Al Qur’an Alloh sifatkan Rosul-NYA
dengan ro’uufur rohiim (penyayang kepada orang yang beriman).
Menunjukkan nama Ar-Rohim bukanlah
nama yang khusus bagi Alloh.
Contoh :
Nama Al
‘Aziz yang dalam Al Qur’an Alloh
menyebutkan imroo’atul ‘aziz (maksudnya
istrinya Al ‘Aziz, yaitu Zulaikha). Disana Alloh sebutkan nama bagi penguasa
Mesir ketika itu dengan Al ‘Aziz yang menunjukkan Al ‘Aziz bukan nama khusus
untuk Alloh.
- Ada
juga nama khusus bagi Alloh apabila
tidak di-idhofah-kan (disandarkan) kepada
sesuatu.
Jika
di-idhofah-kan kepada sesuatu è maka
boleh digunakan oleh makhluk.
Jika
tidak di-idhofahkan kepada sesuatu è maka
tidak boleh digunakan oleh makhluk
Contoh :
Ar-Robbu. Kalau disandarkan
kepadanya sesuatu, maka boleh digunakan. Contohnya : Robbul Bait (pemilik rumah).
- Sifat
rohmat Alloh subhanahu wa Ta’ala adalah sifat yang sangat luas. Faidah dari
“bismillaahirrohmanirrohiim” adalah Isbahtu
Shifati Rohmah Lillaahi ‘Azza wa Jalla (Penetapan Adanya Sifat Rohmat Bagi Alloh) dari namanya Ar Rohman wa Rohim.
~Berpisah Jika
sedang Berkumpul, tapi Berkumpul Jika sedang Berpisah~
- Ketika
mereka berkumpul, maka mereka berpisah. Ketika mereka berpisah, mereka berkumpul.
Ini terdapat dalam makna Islam dan Iman. Perbedaan Ar-Rohman
dan Ar-Rohiim, seperti perbedaan
iman dan Islam. Kata para ‘ulama :
Jika iman
dan Islam disebutkan terpisah è maknanya
sama
Jika iman
dan Islam disebutkan bersama è maknanya
terpisah.
.Contoh :
1. Saya seorang
muslim dan juga seorang mukmin = Saya seorang muslim yang menjalankan Islam
secara dhohir, dan saya seorang mukmin yang menjalankan Islam secara bathin.
2. Saya seorang
muslim = Sudah mencakup keimanan.
3. Saya seorang
mukmin = Sudah mencakup keislaman.
Demikian
juga Ar-Rohman dan Ar-Rohiim. Kalau disebutkan Ar-Rohman terpisah, maknanya sudah
mencakup Ar-Rohiim. Sebaliknya,
kalau disebutkan Ar-Rohiim terpisah,
maknanya sudah mencakup Ar-Rohman.
- Rohmat Alloh ada yang merupakan sifat Alloh,
ada yang merupakan sifat makhluk. Termasuk makna daqiq (makna yang
lebih luas) dalam pembahasan sifat Alloh
subhaanahu wa Ta’ala. Ada yang
merupakan rohmat Alloh, ada yang
merupakan rohmat makhluk. Keduanya boleh disandarkan kepada Alloh.
Sifat
Alloh è merupakan penyandaran
sifat kepada mausuf,
Sifat
makhluk è merupakan penyandaran
makhluk kepada Al Kholiq.
- Rohmat Alloh yang merupakan sifat ALloh yaitu
sifat rahmat yang melekat pada kepada Alloh
dan selalu DIA curahkan kepada hamba-NYA yang DIA kehendaki (perbuatan Alloh mencurahkan rohmat kepada
hamba-NYA.
- Ada pun
rohmat Alloh yang merupakan sifat makhluk sebagaimana yang terdapat dalam hadits dari Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Rosululloh
Shollallohu ‘alaihi wa Sallam
bersabda,
إن لله مائة رحمة أنزل منها رحمة واحدة بين الجن والإنس والبهائم والهوام، فيها
يتعاطفون، وبها يتراحمون، وبها تعطف الوحش على ولدها، وأخر الله تسعا وتسعين رحمة
يرحم بها عباده يوم القيامة
“Sesungguhnya Alloh memiliki 100 rohmat. Salah satu diantaranya diturunkannya kepada kaum jin, manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Dengan rohmat itulah mereka saling berbelas kasih dan menyayangi. Dengannya pula binatang liar mengasihi anaknya. Dan Alloh mengakhirkan 99 rohmat untuk DIA berikan kepada hamba-hamba-NYA pada hari kiamat.”
[Muttafaq ‘alaih dalam Shohih Bukhory, No.6104 dan Shohih Muslim, No.2725]
Hadits
diatas menunjukkan luasnya rohmat Alloh subhanahu wa Ta’ala dan sifat rohmat Alloh yaitu :
- Luasnya rohmat Alloh yang merupakan makhluk, yaitu sifat rohmat Alloh yang diberikan kepada seluruh makhluk
- Luasnya sifat Alloh, yaitu sifat rohmat.
Dari Salman Al Farisi rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Rosululloh
Shollallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda,
“ Sesungguhnya Alloh menciptakan 100 rohmat pada hari Alloh menciptakan langit dan bumi. Setiap rohmat dari 100 rahmat tersebut memenuhi langit dan bumi. Maka, Alloh menjadikan darinya untuk bumi 1 rohmat yang dengannya orang tua mengasihi anaknya, demikian pula binatang buas dan burung-burung satu sama lain, sehingga jika datang hari kiamat Alloh akan menyempurnakan rahmat tersebut bagi Ahlul Jannah.”.
[HR. Muslim]
Hadits
diatas pada lafadz “Alloh menciptakan” menunjukkan rohmat Alloh yang merupakan sifat makhluk,
bukan merupakan sifat
Alloh dan juga menunjukkan luasnya
kasih sayang Alloh kepada hamba-NYA. Demikianlah
makna Ar-Rohman dan Ar-Rohiim dalam basmallah.
- Dari Ar-Rohman dan Ar-Rohim diambil darinya sifat rohmat karena dalam kaidah Asma’ wa
Shifat dijelaskan bahwa “Setiap nama Alloh pasti mengandung sifat Alloh, tetapi tidak semua sifat Alloh mengandung nama Alloh.”
Contoh :
- Ar-Rohman wa Rohiim è Alloh memiliki sifat rohmat. Andaikata ada dalil bahwa Alloh memilikis sifat rohmat dan tidak ada dalil Alloh bernama Ar Rohman Wa Rohim, maka kita tidak boleh menetapkan Ar Rohman Wa Rohim sebagai nama bagi Alloh.
- Alloh yang maha murka. Kemarahan merupakan sifat Alloh. Tapi, kita tidak boleh menamakan, misalnya Alloh Maha Pemarah karena tidak ada dalil bahwa Alloh subhanahu wa Ta’ala bernama Alloh maha pemarah. Ini merupakan makna Asmaul Husna (nama Alloh yang maha indah) dilihat dari sisi mana pun akan tetap indah. Kalau memahami akidah ini, insya Alloh hal itu akan menjaga diri kita dari penyimpangan Tauhidul Asma wa Shifat.
B. HUKUM MENUNTUT ILMU
- Kata Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rohimahulloh dalam kitab ini
“Ketahuilah, semoga Alloh
merohmatimu bahwasanya wajib atas kita mempelajari 4 perkara.” Beliau
mengatakan I’lam yang artinya
- Belajarlah
- Pahamilah
- Yakinilah.
Kata
I’lam Biasa digunakan dalam bahasa Arab untuk menunjukkan pentingnya perkara
yang akan disampaikan setelahnya. Berasal dari kata ilmu (mengetahui sesuatu sesuai kenyataan dengan pengetahuan
yang pasti). Artinya :
- Mengetahui sesuatu, tapi tidak sesuai kenyataann è bukan ilmu, tapi Al-Jahlu (kebodohan)
- Mengetahui sesuatu dengan keraguan è bukan ilmu, tapi syadz (keraguan).
- Hukum
mempelajari ilmu agama secara global adalah fardhu ‘ain, sedangkan mempelajari
ilmu dunia hukumnya mubah. Meskipun kadang diwajibkan bagi orang yang mampu
mempelajari ilmu dunia dan ketika itu kondisinya tidak ada yang mempelajari
ilmu tersebut sehingga dikhawatirkan tidak ada yang mengurus kemaslahatan kaum
muslimin. Contoh : ilmu kedokteran yang merupakan fardhu kifayah. Ada pun ilmu
agama wajib bagi setiap orang mempelajarinya dan apabila tidak mempelajarinya,
maka dia berdosa.
- Ilmu
agama itu sendiri masih ada perinciannnya.
- Ilmu agama yang hukumnya fardhu ‘ain, yaitu ilmu yang tidak diberikan udzur (penghalang) dan kejahilan tentangnya. Harus tahu. Tidak boleh jahil, yaitu ilmu tentang tegaknya agama dimana agama tidak bisa tegak, kecuali dengan ilmu agama itu. Contoh : Ilmu mengenal Alloh, Rosul, dan agama-NYA, cara wudhu, sholat, puasa, zakat, haji bagi yang mampu.
- Ilmu agama yang hukumnya fardhu kifayah, yaitu ilmu agama yang merupakan tambahan seperti, hukum jual beli yang termasuk tidak diwajibkan, tapi diwajibkan bagi orang-orang yang akan berdagang. Kalau tidak tahu, maka dia akan terjatuh dalam penyimpangan. Pada zaman Umar bin Khottob rodhiyallohu ‘anhu dahulu, beliau tetapkan aturan, “ Tidak boleh berjualan di pasar kami, kecuali orang-orang yang mendalami ilmu agama.” Orang yang masuk dalam perniagaan dalam kondisi dirinya tidak mempelajari ilmu tentang jual beli terlebih dahulu, dikhawatirkan akan terjatuh dalam perbuatan yang diharamkan syari’at, semisal riba.
- Para
‘ulama telah sepakat bahwa ilmu agama merupakan syarat sahnya aqidah. Dalilnya
yaitu tentang pertanyaan malaikat kepada orang-orang yang beriman, kafir, dan
munafiq. Kata ‘ulama,
“Sesungguhnya taqlid tidaklah bermanfaat bagi Aqidah seseorang.”
- Dia tidak
akan diberikan penguatan oleh Alloh
untuk menjawab pertanyaan di alam kubur. Padahal keberhasilan dia menjawab
pertanyaan malaikat itulah yang akan menentukan perjalannya di alam akhirat
setelahnya
- Ahlul bid’ah, seperti Asy-'Ariyah dan Maturidiyah, mereka juga mengatakan sekedar ikut-ikutan tidak akan
bermanfaat bagi aqidah seseorang. Ada pun Sufi
dan Syi’ah membangun agamanya
diatas taqlid.
- Sebagian
Ahlul Bid’ah memang ada yang berkeyakinan bahwa taqlid tidaklah bermanfaat bagi
aqidah seseorang. Bedanya Ahlussunnah dengan Ahlul Bid’ah dalam hal ini :
Ahlussunnah :
è kalau Ahlussunnah mewajibakan mengenal Alloh dengan dalil syar’i, baru dengan dalil
kauni (dalil yang berasal dari alam).
è Ahlussunnah landasannya Al Qur’an dan Hadits dengan pemahaman salafush sholih
Ahlul Bid’ah :
è mengenal Alloh dengan melihat pada alam ini (dalil kauni)
è landasannya dengan akal. Kaidah mereka jika
terjadi pertentangan antara syari’at dengan akal, maka akal yang didahulukan.
- Padahal
kalau akal itu sehat, tidak mungkin terjadi pertentangan antara akal dengan wahyu
karena Alloh lah yang telah
mencipatakan akal. Alloh pula yang
telah menurunkan syari’at untuk dipahami dengan akalnya. Bagaimana bisa Alloh jadikan wahyu dengan akal
bertentangan? Jadi, kalau ada pertentangan, maka tuduhlah akal itu sudah tidak
sehat, sudah gila karena wahyu dan akal tidak mungkin bertentangan. Dalil kauni hanya sebagai pendukung.
Dalil utama adalah dalil syar’i. Akal bukan sebagai sumber dalam memahami
agama. Tapi, hanya sekedar alat dan sumbernya tetap Al Qur’an dan Sunnah.
- Kalau Sufi membangun sumber agama mereka
dengan perasaan, mimpi, lintasan hati, lintasan pikiran yang semuanya itu
hakikatnya merupakan bisikan Syaithon.
- Jadi, Ahlussunnah membangun sumber agama
mereka dengan wahyu. Ada pun sebagian ahlul bid’ah membangun sumber agama
mereka dengan akal, sebagian lagi dengan perasaan, lintasan atau bisikan hati,
ilham. Hal seperti itulah yang menjadi penyebab kesesatan mreka.
C. PENUTUP
Hal
pertama yang harus dipegang oleh seorang muslim jika dia menginginkan Aqidahnya selamat dari penyimpangan-penyimpangan, hendaknya dia mulai dengan membangun sumber agamanya dari Al Qur’an dan Hadits sesuai dengan
pemahaman salafush sholih.
[Faidah dari Al Ustadz Sofyan Cholid Ruray dalam Pembahasan Kitab “Tsalatsatul Ushul wa Adillatuha”, 2012]
________________________________________________________________
Rekaman Tsalatsatul Ushul lainnya :


Tidak ada komentar:
Posting Komentar