بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
…Catatan Dars…
A.Pelajaran dari Kitab Adabul Mufrod tentang
Kesempurnaan Islam
- Sebuah
warisan dari para ‘ulama yang sangat agung nilainya yang memberikan bimbingan
bagaimana seorang muslim menjalani kehidupannya untuk selalu tunduk kepada aturan
Alloh dan mengambil jalan yang diridhoi-NYA dalam beribadah maupun
bermuamallah.
- Sebuah
karya dari Al-Imam Al-Bukhory rohimahulloh yang mengingatkan kepada
kita tentang kesempurnaan akhlak. Bagaimana sempurnanya Islam yang telah
mengatur seluruh aspek kehidupan, khususnya berkaitan dengan hukum interaksi
yang didalamnya mengatur bagaimana interaksi antara seorang muslim dengan
muslim yang lain, interaksi antara seorang muslim dengan tumbuh-tumbuhan,
interaksi antara seorang muslim dengan hewan, dan sebagainya. Hal ini memantapkan
keyakinan kita bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan
risalah yang sempurna sebagaimana Alloh
subhanahu wa Ta’ala sifatkan dalam
firmannya,
“Pada hari ini telah AKU sempurnakan untukmu agamamu, dan telah AKU cukupkan kepadamu nikmat-KU dan telah AKU ridhoi Islam itu sebagai agamamu.”
[QS. Al-Maidah 3]
-. Berada
diatas keislaman dan menjadi umat Muhammad
shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah
nikmat Alloh yang besar. Risalah yang beliau bawa adalah sebuah risalah yang
paling agung sebagaimana Al Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziah rohimahulloh berkata, “Risalah yang
beliau bawa merangkumkan kebaikan dari risalah-risalah yang sebelumnya sehingga
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berjanji akan menjaga risalah yang Alloh turunkan dan janji Alloh tidak akan diturunkan kepada umat
sebelumnya.” Dalam Al Qur’an Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.
[QS. Al-Hijr : 9]
- Sebagaimana
kaum terdahulu yang banyak merusak agama mereka sehingga risalah yang turun
kepada mereka menghilang atau bercampur dengan kebathilan.
- Semua
sisi kehidupan telah Alloh ajarkan
melalui agama ini. Dalam ibadah, hukum muamalah, politik, etika bisnis. Bahkan
pada suatu hari kaum musyrikin berkata kepada Salman Al Farisi rodhiyalloho
'anhu perihal ajaran yang disampaikan oleh Rosululloh shollallohu
'alaihi wa sallam,
"Benarkah Nabi kalian telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai pun perkara adab buang hajat?” Salman menjawab, "Benar (beliau mengajarkan kami adab membuang hajat),
[HR. Muslim, No. 262]
- Lalu bagaimana
lagi dengan urusan politik yang menyangkut urusan banyak manusia ????Ketika hendak masuk ke dalam WC. kita
diajarkan do’a-nya, tidak menghadap ke kiblat, tidak berlama-lama dikamar
mandi, perintah bagaimana membersihkan kotoran, apa yang bisa digunakan untuk
membersihkannya, dan sebagainya. Sedemikian besarnya perkara yang mesti kita
pelajari ketika hendak membuang hajat.
- Kita
akan mengetahui keagungan syariat ini melalui kitab Adabul Mufrod. Kitab yang mengajarkan kepada kita bagaimana adab bermuamalah
kepada sesama muslim, non muslim, sampai kepada benda-benda mati. Ketika kita
membaca kitab ini kita akan mengetahui bahwa Alloh tidak akan meninggalkan umat ini dalam keadaan sia-sia. Alloh
menginginkan kemuliaan bagi hamba-NYA.
B. Islam akan Berjaya dengan Berpegang Kepada
Syari’at-NYA
- Ada
yang mengatakan bahwa masalah syari’ah adalah masalah-masalah yang telah
berlalu. Sungguh sangat mengerikannya perkataan itu melebihi perkataan sebagian
orang yang berkata bahwa perumpamaan dakwah Ahlussunnah hanya berputar pada mengurusi masalah haid dan nifas
saja, masih menyibukkan dengan perkara tauhid dan kesyirikan, masih meributkan
masalah boleh atau tidaknya ber-tawasul kepada
orang yang telah meninggal ditengah banyaknya orang yang telah pergi ke bulan.
- Padahal
salafush sholih merasakan kemenangan
umat terdahulu dan mencari kemenangan dari perkara yang merupakan bagian dari
agama. Sebagaimana kisahnya Jabir bin
Abdillah rodhiyallohu ‘anhu.. Telah
bercerita kepada kami Hasan Bin Ar-Robi'
telah bercerita kepada kami Ibnu Mubarok
dari 'Utbah bin Abu Hakim dari Hushoin dari Abu Al Mushobbih dari Jabir
bin Abdullah berkata,
“Saya telah mendengar Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang kedua telapak kakinya berdebu dalam (jihad) di jalan Alloh, maka Alloh haramkan kedua kakinya dari Neraka.”
[HR. Ahmad, No. 14419]
Jabir bin Abdillah rodhiyallohu ‘anhu ketika itu pergi
berperang dan tidak menunggangi keledainya. Hal itu membuat heran pasukan yang
lainnya sebab para sahabat banyak yang menaiki unta dan saling bergantian
karena minimnya apa yang mereka punya. Lalu salah seorang pemimpin perang,
yaitu Malik ibn Abdillah Al-Khatsami
pun berkata, “Yaa, Aba Abdillah… Mengapa Engkau tidak menungganginya padahal Alloh telah memberikan kemudahan padamu
dengan punggungnya yang dapat meringankan bebanmu.” Maka, beliau pun menjawab
dengan suara yang lantang, “ Aku pernah mendengar Rosulullah shollallohu ‘alaihi
wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang kedua telapak kakinya berdebu dalam
(jihad) di jalan Alloh, maka Alloh haramkan kedua kakinya dari Neraka.”
- Maka,
serta merta para sahabat turun dari kendaraannya dan berjalan karena ingin
mendapatkan keridhoan Alloh. Jabir bin
Abdillah, beliau ingin langkah kakinya mendapat hitungan disisi Alloh dan
ingin mendapatkan kemuliaan dengan debu-debu yang bertebangan dari kakinya. Dan
apa yang mereka lakukan itu mendapat keridhoan dan pertolongan Alloh sehingga membuahkan
kemenangan. Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini bahwa sekecil apa pun
itu amal perbuatan, para sahabat tidak pernah melepaskannya. Justru mereka
adalah orang-orang yang mengagungkan dan tidak meremahkannya yang itu semua
menjadi sebab datangnya pertolongan Alloh.
-
Hakikatnya kekalahan kaum muslimin, berkuasanya kaum kafir atas umat Islam
sebagaimana Ibnu Qoyyim rohimahulloh berkata, “Berkuasanya kaum
kafir atas kaum muslimin, bukan karena kuatnya mereka, tetapi karena BERPALINGNYA
Yang Maha Menjaga saat berpalingnya
kaum muslimin dari agama Alloh.” Alloh subhanau wa Ta’ala berfirman,
“Barangsiapa yang menolong agama Alloh, Alloh PASTI akan menolong mereka.”
- Kata para
‘ulama, yang dimaksud dengan menolong agama Alloh disini adalah dengan berupaya menegakkan
syari’at-syari’at-NYA dalam kehidupan kita. Dari sini Alloh akan memberi
pertolongan-NYA.
- Kita
berharap dari mempelajari kitab ini semoga langkah kehidupan kita semakin
terbingkai dengan nilai-nilai syariah dan dari sini akan muncul kemenangan, asbabun nashr. Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani menjelaskan diantara sebab kemenangan yang paling
besar adalah saat kaum muslimin kembali kepada agamanya. Jika Alloh menjadikan Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimussalam
mendapatkan kemenangan, maka umat Muhammad
lebih berhak untuk mendapatkan kemenangan sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qoyim rohimahulloh ketika beliau membaca salah satu firman Alloh,
“ Kamu berdua (Nabi Musa dan Nabi Harun) dan siapa pun yang mengikuti kalianlah yang akan menang.”
[QS: Al-Qashash Ayat: 35]
- Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang pertama kali
membuka pintu Surga. Dan umat beliau pun adalah umat yang pertama kali akan dihisab
di akhirat kelak sehingga dari keutamaan-keutamaan dan dari firman Alloh itulah Ibnu Qoyyim berkata bahwa umat Muhammad
lebih berhak lagi untuk mendapat kemenangan.
- Hendaknya
kita selalu bersyukur dan selalu membekali diri kita dengan ilmu karena ilmu
agama yang akan membingkai kehidupan kita dan ini yang diajarkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah do’a yang maknanya
semoga Alloh menjauhkan kita dari musibah
yang menimpa agama kita dan semoga Alloh
tidak menjadikan dunia sebagai puncak pengetahuan kita.
C. Biografi Al Imam Al Bukhory rohimahulloh
- Imam Bukhory rohimahulloh telah menulis untuk kita dari sekian banyak
sabda-sabda Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa salam dengan perjuangan dan harapan apa yang
beliau tulis akan menjadi jalan yang memudahkan kaum muslimin untuk mengetahui
setiap permasalahan dalam agamanya. Jika memungkinkan, hendaknya kita memiliki kitab ini yang tidak ada 1 pun
yang meragukannya, kecuali orang-orang SYI’AH
dan yang membenci agama kita.
- Beliau secara
nasab bukan orang Arab dan ini pelajaran besar bagi kita bahwa kemuliaan agama
bisa diraih oleh semua orang karena agama ini rahmatan lil ‘alamin.
- Imam bukhory dikenal dengan nama Al Bukhory.
- Nama
asli beliau Muhammad bin Ismail bin Ibrohim
bin Al-Mughiroh bin Bardizbah Al-Ju'fi Al-Bukhory.
- Nama
kun-yah beliau Abu Abdillah
- Secara
nasab memiliki darah Persia, Uzbekistan, Asia Tengah
- Beliau
lahir dari seorang ayah yang ‘alim dan pakar dalam mazhab Maliki dan seorang ‘ulama
mu’tabar (besar), yaitu Ismail ibnu Ibrohim.
- Kakek beliau, yaitu Mughirah ibnu Bardizbah beragama majusi
yang kemudian masuk islam didaerah Ju’fi, Yaman yang ketika itu merupakan pusat
kebudayaan islam atau pusat pembelajaran Islam selain Madinah, Damaskus, Baghdad,
setelah itu kota kelahiran Imam Bukhory,
yaitu Bukhoro, Uzbekistan.
- Beliau
lahir pada tahun 194H (sudah 1200 tahun kurang lebih), tetapi barokah ilmu
beliau masih bisa kita baca dan kita rasakan dan hal ini merupakan amal yang
tidak akan terputus walaupun seseorang telah meninggal nanti.
- Imam Bukhory ketika pulang dari tholabul ilmy, penduduk Bukharo menyambutnya
dengan sekian kg emas untuk pesta. Tapi, saat beliau menyampaikan ilmu agama
setelah berhari-hari lamanya agar kita menjadi seorang yang muwahhid, tunduk kepada syari’at dan
dalil, pada akhirnya Beliau diusir dari kampungya karena dianggap telah memecah
belah dan membawa ajaran baru.
- Beliau
adalah orang yang gigih dalam mempelajari agama Alloh, tapi mengalami kebutaan sejak kecil hingga beliau berusia 10
tahun. Ibu beliau adalah seorang wanita yang sholiha yang tidak pernah berhenti
berdo’a dan su’udzon tentang keadaan
anaknya sehingga hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Pelajaran yang bisa
kita ambil disini adalah ketika seseorang berbaik sangka kepada Alloh dan
memiliki harapan, pasti akan Alloh
kabulkan permohonannya. Ibu beliau pernah bermimpi tentang kabar anaknya yang
bisa melihat lagi. Paginya ternyata Imam
Bukhory bisa melihat. Ini pelajaran penting dari orang yang senantiasa khusnudzon kepada Alloh. Khusnudzon itu pengaruhnya sangat kuat bagi kehidupan. Terlebih do’a dari kedua
orang tua kita sehingga beliau pun memasukkan bab pertama dalam Kitab Adabul Mufrod ini adalah BAB Berbakti Kepada Orang Tua karena
beliau merasakan bagaimana pengaruh mendapatkan ibu yang sholihah yang sekian
tahun berdo’a kepada Alloh meminta kesembuhan untuk anaknya. Hal itu sejalan
dengan apa yang Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sabdakan,
“Ridho ALLOH bergantung kepada ridho orang tua.”
- Sebagai
bentuk rasa syukurnya, Imam Bukhory dimulai
sejak beliau dapat melihat, beliau tidak pernah melepaskan waktunya untuk
kebaikan. Ketika belajar, beliau lakukan dengan sungguh-sungguh. Dalam perkara
dunia, Beliau juga melakukannya dalam bentuk yang terbaik sehingga menjadikan
beliau ahli dalam memanah. Hanya dua kali saja seumur hidup beliau salah
membidik. Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari sini adalah beliau
melakukan setiap perkara dengan sebaik-baiknya, dengan bersungguh-sungguh.
- Ketika
beliau berusia 16 tahun, beliau sudah berhasil mengarang Kitab Kazaya Shahabah wa Tabi'in. Beliau terus menghafal hadits dan
kitab-kitab para ‘ulama. Beliau hafal
tidak kurang dari 1 juta hadits, ada juga yang menyebutkan beliau hafal 600rbu,
700 rbu hadits. Tapi, setidaknya kurang lebih
dari 1 juta hadits yang telah beliau hafalkan dan ini bisa kita lihat dari
karya-karya beliau.
- Ketika
orang-orang menganggap agama kita tidak bisa memberikan solusi dari sekian
banyak permasalahan yang ada seperti sekarang ini. Hal itu sebenarnya
sebenernya berasal dari kebodohan kita sendiri terhadap ilmu agama ini. Andai
kita mau mempelajarinya, PASTI akan
kita temukan solusinya. Umar bin khottob
rodhiyallohu ‘anhu pernah berkata,
“Akan muncul segolongan umat yang LEMAH dalam hadits, LEMAH dalam hafalan hadits yang akhirnya akan memunculkan golongan orang-orang yang hanya berkata dengan akalnya yang berujung pada kesesatan dan menyesatkan.”
- Padahal
Hadits itu adalah penjabar dari
kandungan Al Qur’an sebagaimana
firman Alloh subhanahu wa Ta’ala, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar
kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka
dan supaya mereka memikirkan” (QS.
An-Nahl : 44)
- Berkata Al Imam Asy
Syaf’i rohimahulloh, “Sunnah itu
yang menjabarkan, menghukumi, menjelaskan setiap point yang ada dalam Al Qur’an.”
- Oleh
karena itu, sedemikian semangatnya Imam
Bukhory dan para ‘ulama kita hingga sekarang ini menghafal hadits sebagai
pelengkap Al Qur’an. Contoh ‘ulama yang
mengikuti Imam Bukhory adalah Asy-Syaikh Hafidz Al-Hakami yang menghafal Kutubus Sittah [Enam Kitab],baik sanad maupun lafadz matannya. Berbeda
dengan kita dimasa sekarang yang mungkin nama Kutubus Sittah saja kita tidak menghafalnya. Itulah para ‘ulama. Barokahnya ilmu mereka.
" Oleh karena itu, dengan kondisi kita
sekarang ini tidak heran jika banyak diantara kaum muslimin yang mengatakan
agama kita tidak memiliki solusi karena memang mereka tidak mempelajari agama
ini dengan sungguh-sungguh..
Andai kita mau mempelajarinya, niscaya kita
akan menemukan berbagai hal yang menakjubkan dalam agama kita, seperti
bagaimana cara mendidik, menata hati sesuai Sunnah Nabi-NYA, dan masih banyak
lagi."
Ketika menulis ini saya jadi teringat dengan
nasihat yang disampaikan oleh Al Ustadz Dzulqarnain. Kata beliau –kurang lebih-
:
" Tidak ada satu masalah apa pun yang
menimpa seorang hamba, baik itu berkaitan dengan dunianya, keluarganya, ataupun
teman.-temannya ...
Masalah itu muncul dan tidak menemukan
solusinya, melainkan sebabnya hanya satu, yaitu ada ilmu agama yang tidak dia ketahui
...
Andaikata seseorang itu mengetahui, ilmu
tersebut bisa menjadi petunjuknya .. "
- Kata Syaikh Al Utsamimin rohimahulloh secara makna, “Setiap satu ayat dalam Al Qur’an.
terkadang memiliki cakupan hukum yang sekian banyak terhadap
permasalahan-permasalahan.”
- Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Alloh kehendaki kebaikan, maka akan Alloh
faqihkan ia dalam agamanya.” Kalau kita belajar kepada para ulama’, maka kita
akan menemukan bagaimana dalam satu ayat saja, kadang para ‘ulama sebutkan
beberapa hadits dan faidahnya. Hal itu termasuk bentuk kemudahan yang Alloh
berikan.
- Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mendo’akan Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu, “Ya Allah,
fakihkan (pahamkan) ia dalam masalah agama, dan ajarkan padanya takwil
(tafsirnya).” Maka Allah mengabulkan do’a Nabi-Nya, sehingga jadilah Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu ulamanya umat dan beliau adalah ahli tafsir Al-Qur’an Al-Karim melalui do’a Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam.
-. Orang
yang hanya sekedar menghafal Al Qur’an
itu banyak, tapi yang faqih (paham) itu sedikit. Banyak para penjudi yang menghafal Al
Qur’an di negara Mauritania. Mereka
kumplkan orang, lalu masing-masing membaca surah Al Baqoroh secara terbalik. Bagi yang tidak salah, dia mengambil
uangnya. Ini menunjukkan kepada kita sekedar menghafal itu bukanlah hal yang
sulit. Tapi, yang memahami makna Al Qur’an,
kandungan Al Qur’an itu sedikit. Demikian pula dengan penduduk Indonesia
yang tidak kalah banyak para penghafal Al
Qur’annya. Maka, kata Umar bin
Khottob rodhiyallohu ‘anhu dalam
riwayat Bukhory disebutkan bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
- Begitu besar tanggung jawab kaum muslimin kepada agamanya. Siapa yang menginginkan sesuatu yang benar-benar nyata dalam agamanya, hendaknya dia memiliki upaya sebagaimana yang Alloh dan Rosul-NYA ajarkan.
“Alloh akan mengangkat Al Qur’an melalui segolongan kaum, Alloh hancurkan pula segolongan kaum dengan Al Qur’an.”
- Begitu besar tanggung jawab kaum muslimin kepada agamanya. Siapa yang menginginkan sesuatu yang benar-benar nyata dalam agamanya, hendaknya dia memiliki upaya sebagaimana yang Alloh dan Rosul-NYA ajarkan.
- Imam Bukhory rohimahulloh telah mewakafkan hidupnya untuk memberi nasihat kepada
kita melalui berbagai tulisan-tulisan beliau. Sekian banyak yang beliau tulis
dalam berbagai karya yang tentunya ada sebuah harapan untuk kaum muslimin agar
kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah. Tidaklah setiap hadits yang
ditulis oleh beliau, kecuali telah beliau amalkan. Demikian pula para ‘ulama
kita. Sampai Imam Ahmad rohimahulloh menunda memasukkan hadits hijamah
(bekam) dalam kitab beliau, yaitu Al
Musnad sampai beliau pergi dahulu untuk berbekam, baru setelah itu beliau tulis
hadits masalah hijamah dalam kitab beliau. Demikianlah kondisi para ‘ulama kita.
- Imam Bukhory rohimahulloh wafat pada tahun 256 H setelah sekian lama mewakafkan
hidupnya untuk agama Alloh, berjihad
untuk agama Alloh dengan warisan
yang sedemikian besarnya yang beliau wasiatkan dalam berbagai karyanya. Tidak
seperti orang-orang dimasa sekarang yang mengagungkan kuburan beliau. Sebagian
orang mengatakan bahwa dirinya mencintai Nabi. Tapi, hakikat cinta bukan hanya
sekedar pengakuan di lisan saja.
[Faidah dari Al Ustadz Ali Basuki, Lc hafizhohulloh dalam Pembahasan Kitab
Adabul Mufrod, 2010]
__________________________________________________________



Tidak ada komentar:
Posting Komentar