Kamis, 12 Desember 2013

Adabul Mufrod : 1.Muqoddimah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ



…Catatan Dars…


A.Pelajaran dari Kitab Adabul Mufrod tentang Kesempurnaan Islam

- Sebuah warisan dari para ‘ulama yang sangat agung nilainya yang memberikan bimbingan bagaimana seorang muslim menjalani kehidupannya untuk selalu tunduk kepada aturan Alloh dan mengambil jalan yang diridhoi-NYA dalam beribadah maupun bermuamallah.

- Sebuah karya dari Al-Imam Al-Bukhory rohimahulloh yang mengingatkan kepada kita tentang kesempurnaan akhlak. Bagaimana sempurnanya Islam yang telah mengatur seluruh aspek kehidupan, khususnya berkaitan dengan hukum interaksi yang didalamnya mengatur bagaimana interaksi antara seorang muslim dengan muslim yang lain, interaksi antara seorang muslim dengan tumbuh-tumbuhan, interaksi antara seorang muslim dengan hewan, dan sebagainya. Hal ini memantapkan keyakinan kita bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan risalah yang sempurna sebagaimana Alloh subhanahu wa Ta’ala sifatkan dalam firmannya,


“Pada hari ini telah AKU sempurnakan untukmu agamamu, dan telah AKU cukupkan kepadamu nikmat-KU dan telah AKU ridhoi Islam itu sebagai agamamu.” 

[QS. Al-Maidah 3]


-. Berada diatas keislaman dan menjadi umat Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah nikmat Alloh yang besar. Risalah yang beliau bawa adalah sebuah risalah yang paling agung sebagaimana Al Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziah rohimahulloh berkata, “Risalah yang beliau bawa merangkumkan kebaikan dari risalah-risalah yang sebelumnya sehingga Alloh Subhanahu wa Ta’ala berjanji akan menjaga risalah yang Alloh turunkan dan janji Alloh tidak akan diturunkan kepada umat sebelumnya.” Dalam Al Qur’an Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. 

[QS. Al-Hijr : 9]


- Sebagaimana kaum terdahulu yang banyak merusak agama mereka sehingga risalah yang turun kepada mereka menghilang atau bercampur dengan kebathilan.

- Semua sisi kehidupan telah Alloh ajarkan melalui agama ini. Dalam ibadah, hukum muamalah, politik, etika bisnis. Bahkan pada suatu hari kaum musyrikin berkata kepada Salman Al Farisi rodhiyalloho 'anhu perihal ajaran yang disampaikan oleh Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam,


"Benarkah Nabi kalian telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai pun perkara adab buang hajat?” Salman menjawab, "Benar (beliau mengajarkan kami adab membuang hajat),

[HR. Muslim, No. 262]


- Lalu bagaimana lagi dengan urusan politik yang menyangkut urusan banyak manusia ????Ketika hendak masuk ke dalam WC. kita diajarkan do’a-nya, tidak menghadap ke kiblat, tidak berlama-lama dikamar mandi, perintah bagaimana membersihkan kotoran, apa yang bisa digunakan untuk membersihkannya, dan sebagainya. Sedemikian besarnya perkara yang mesti kita pelajari ketika hendak membuang hajat.

- Kita akan mengetahui keagungan syariat ini melalui kitab Adabul Mufrod. Kitab yang mengajarkan kepada kita bagaimana adab bermuamalah kepada sesama muslim, non muslim, sampai kepada benda-benda mati. Ketika kita membaca kitab ini kita akan mengetahui bahwa Alloh tidak akan meninggalkan umat ini dalam keadaan sia-sia. Alloh menginginkan kemuliaan bagi hamba-NYA.




B. Islam akan Berjaya dengan Berpegang Kepada Syari’at-NYA

- Ada yang mengatakan bahwa masalah syari’ah adalah masalah-masalah yang telah berlalu. Sungguh sangat mengerikannya perkataan itu melebihi perkataan sebagian orang yang berkata bahwa perumpamaan dakwah Ahlussunnah hanya berputar pada mengurusi masalah haid dan nifas saja, masih menyibukkan dengan perkara tauhid dan kesyirikan, masih meributkan masalah boleh atau tidaknya ber-tawasul kepada orang yang telah meninggal ditengah banyaknya orang yang telah pergi ke bulan.

- Padahal salafush sholih merasakan kemenangan umat terdahulu dan mencari kemenangan dari perkara yang merupakan bagian dari agama. Sebagaimana kisahnya Jabir bin Abdillah rodhiyallohu ‘anhu.. Telah bercerita kepada kami Hasan Bin Ar-Robi' telah bercerita kepada kami Ibnu Mubarok dari 'Utbah bin Abu Hakim dari Hushoin dari Abu Al Mushobbih dari Jabir bin Abdullah berkata,


“Saya telah mendengar Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang kedua telapak kakinya berdebu dalam (jihad) di jalan Alloh, maka Alloh haramkan kedua kakinya dari Neraka.” 

[HR. Ahmad, No. 14419]


Jabir bin Abdillah rodhiyallohu ‘anhu ketika itu pergi berperang dan tidak menunggangi keledainya. Hal itu membuat heran pasukan yang lainnya sebab para sahabat banyak yang menaiki unta dan saling bergantian karena minimnya apa yang mereka punya. Lalu salah seorang pemimpin perang, yaitu Malik ibn Abdillah Al-Khatsami pun berkata, “Yaa, Aba Abdillah… Mengapa Engkau tidak menungganginya padahal Alloh telah memberikan kemudahan padamu dengan punggungnya yang dapat meringankan bebanmu.” Maka, beliau pun menjawab dengan suara yang lantang, “ Aku pernah mendengar Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa yang kedua telapak kakinya berdebu dalam (jihad) di jalan Alloh, maka Alloh haramkan kedua kakinya dari Neraka.”

- Maka, serta merta para sahabat turun dari kendaraannya dan berjalan karena ingin mendapatkan keridhoan Alloh. Jabir bin Abdillah, beliau ingin langkah kakinya mendapat hitungan disisi Alloh dan ingin mendapatkan kemuliaan dengan debu-debu yang bertebangan dari kakinya. Dan apa yang mereka lakukan itu mendapat keridhoan dan pertolongan Alloh sehingga membuahkan kemenangan. Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini bahwa sekecil apa pun itu amal perbuatan, para sahabat tidak pernah melepaskannya. Justru mereka adalah orang-orang yang mengagungkan dan tidak meremahkannya yang itu semua menjadi sebab datangnya pertolongan Alloh.

- Hakikatnya kekalahan kaum muslimin, berkuasanya kaum kafir atas umat Islam sebagaimana Ibnu Qoyyim rohimahulloh berkata, “Berkuasanya kaum kafir atas kaum muslimin, bukan karena kuatnya mereka, tetapi karena BERPALINGNYA Yang Maha Menjaga saat berpalingnya kaum muslimin dari agama Alloh.” Alloh subhanau wa Ta’ala berfirman, 


“Barangsiapa yang menolong agama Alloh, Alloh PASTI akan menolong mereka.”


- Kata para ‘ulama, yang dimaksud dengan menolong agama Alloh disini adalah dengan berupaya menegakkan syari’at-syari’at-NYA dalam kehidupan kita. Dari sini Alloh akan memberi pertolongan-NYA.

- Kita berharap dari mempelajari kitab ini semoga langkah kehidupan kita semakin terbingkai dengan nilai-nilai syariah dan dari sini akan muncul kemenangan, asbabun nashr. Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani menjelaskan diantara sebab kemenangan yang paling besar adalah saat kaum muslimin kembali kepada agamanya. Jika Alloh menjadikan Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimussalam mendapatkan kemenangan, maka umat Muhammad lebih berhak untuk mendapatkan kemenangan sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qoyim rohimahulloh ketika beliau membaca salah satu firman Alloh,


“ Kamu berdua (Nabi Musa dan Nabi Harun) dan siapa pun yang mengikuti kalianlah yang akan menang.” 
[QS: Al-Qashash Ayat: 35]


- Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang pertama kali membuka pintu Surga. Dan umat beliau pun adalah umat yang pertama kali akan dihisab di akhirat kelak sehingga dari keutamaan-keutamaan  dan dari firman Alloh itulah Ibnu Qoyyim berkata bahwa umat Muhammad lebih berhak lagi untuk mendapat kemenangan.

- Hendaknya kita selalu bersyukur dan selalu membekali diri kita dengan ilmu karena ilmu agama yang akan membingkai kehidupan kita dan ini yang diajarkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah do’a yang maknanya semoga Alloh menjauhkan kita dari musibah yang menimpa agama kita dan semoga Alloh tidak menjadikan dunia sebagai puncak pengetahuan kita.




C. Biografi Al Imam Al Bukhory rohimahulloh

- Imam Bukhory rohimahulloh telah menulis untuk kita dari sekian banyak sabda-sabda Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa salam dengan perjuangan dan harapan apa yang beliau tulis akan menjadi jalan yang memudahkan kaum muslimin untuk mengetahui setiap permasalahan dalam agamanya. Jika memungkinkan, hendaknya  kita memiliki kitab ini yang tidak ada 1 pun yang meragukannya, kecuali orang-orang SYI’AH dan yang membenci agama kita.

- Beliau secara nasab bukan orang Arab dan ini pelajaran besar bagi kita bahwa kemuliaan agama bisa diraih oleh semua orang karena agama ini rahmatan lil ‘alamin.

- Imam bukhory dikenal dengan nama Al Bukhory.

- Nama asli beliau Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Al-Mughiroh bin Bardizbah Al-Ju'fi Al-Bukhory.

- Nama kun-yah beliau Abu Abdillah

- Secara nasab memiliki darah Persia, Uzbekistan, Asia Tengah

- Beliau lahir dari seorang ayah yang ‘alim dan pakar dalam mazhab Maliki dan seorang ‘ulama mu’tabar (besar), yaitu Ismail ibnu Ibrohim.

- Kakek beliau, yaitu Mughirah ibnu Bardizbah beragama majusi yang kemudian masuk islam didaerah Ju’fi, Yaman yang ketika itu merupakan pusat kebudayaan islam atau pusat pembelajaran Islam selain Madinah, Damaskus, Baghdad, setelah itu kota kelahiran Imam Bukhory, yaitu Bukhoro, Uzbekistan.

- Beliau lahir pada tahun 194H (sudah 1200 tahun kurang lebih), tetapi barokah ilmu beliau masih bisa kita baca dan kita rasakan dan hal ini merupakan amal yang tidak akan terputus walaupun seseorang telah meninggal nanti.

- Imam Bukhory ketika pulang dari tholabul ilmy, penduduk Bukharo menyambutnya dengan sekian kg emas untuk pesta. Tapi, saat beliau menyampaikan ilmu agama setelah berhari-hari lamanya agar kita menjadi seorang yang muwahhid, tunduk kepada syari’at dan dalil, pada akhirnya Beliau diusir dari kampungya karena dianggap telah memecah belah dan membawa ajaran baru.

- Beliau adalah orang yang gigih dalam mempelajari agama Alloh, tapi mengalami kebutaan sejak kecil hingga beliau berusia 10 tahun. Ibu beliau adalah seorang wanita yang sholiha yang tidak pernah berhenti berdo’a dan su’udzon tentang keadaan anaknya sehingga hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Pelajaran yang bisa kita ambil disini adalah ketika seseorang berbaik sangka kepada Alloh dan memiliki harapan, pasti akan Alloh kabulkan permohonannya. Ibu beliau pernah bermimpi tentang kabar anaknya yang bisa melihat lagi. Paginya ternyata Imam Bukhory bisa melihat. Ini pelajaran penting dari orang yang senantiasa khusnudzon kepada Alloh. Khusnudzon itu pengaruhnya sangat kuat bagi kehidupan. Terlebih do’a dari kedua orang tua kita sehingga beliau pun memasukkan bab pertama dalam Kitab Adabul Mufrod ini adalah BAB Berbakti Kepada Orang Tua karena beliau merasakan bagaimana pengaruh mendapatkan ibu yang sholihah yang sekian tahun berdo’a kepada Alloh meminta kesembuhan untuk anaknya. Hal itu sejalan dengan apa yang Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sabdakan, 


“Ridho ALLOH bergantung kepada ridho orang tua.”


- Sebagai bentuk rasa syukurnya, Imam Bukhory dimulai sejak beliau dapat melihat, beliau tidak pernah melepaskan waktunya untuk kebaikan. Ketika belajar, beliau lakukan dengan sungguh-sungguh. Dalam perkara dunia, Beliau juga melakukannya dalam bentuk yang terbaik sehingga menjadikan beliau ahli dalam memanah. Hanya dua kali saja seumur hidup beliau salah membidik. Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari sini adalah beliau melakukan setiap perkara dengan sebaik-baiknya, dengan bersungguh-sungguh.

- Ketika beliau berusia 16 tahun, beliau sudah berhasil mengarang Kitab Kazaya Shahabah wa Tabi'in. Beliau terus menghafal hadits dan  kitab-kitab para ‘ulama. Beliau hafal tidak kurang dari 1 juta hadits, ada juga yang menyebutkan beliau hafal 600rbu, 700 rbu hadits.  Tapi, setidaknya kurang lebih dari 1 juta hadits yang telah beliau hafalkan dan ini bisa kita lihat dari karya-karya beliau.

- Ketika orang-orang menganggap agama kita tidak bisa memberikan solusi dari sekian banyak permasalahan yang ada seperti sekarang ini. Hal itu sebenarnya sebenernya berasal dari kebodohan kita sendiri terhadap ilmu agama ini. Andai kita mau mempelajarinya, PASTI akan kita temukan solusinya. Umar bin khottob rodhiyallohu ‘anhu pernah berkata, 


“Akan muncul segolongan umat yang LEMAH dalam hadits, LEMAH dalam hafalan hadits yang akhirnya akan memunculkan golongan orang-orang yang hanya berkata dengan akalnya yang berujung pada kesesatan dan menyesatkan.”



- Padahal Hadits itu adalah penjabar dari kandungan Al Qur’an sebagaimana firman Alloh subhanahu wa Ta’ala, “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (QS. An-Nahl : 44) 

- Berkata Al Imam Asy Syaf’i rohimahulloh, “Sunnah itu yang menjabarkan, menghukumi, menjelaskan setiap point yang ada dalam Al Qur’an.”

- Oleh karena itu, sedemikian semangatnya Imam Bukhory dan para ‘ulama kita hingga sekarang ini menghafal hadits sebagai pelengkap Al Qur’an. Contoh ‘ulama yang mengikuti Imam Bukhory adalah Asy-Syaikh Hafidz Al-Hakami yang menghafal Kutubus Sittah [Enam Kitab],baik sanad maupun lafadz matannya. Berbeda dengan kita dimasa sekarang yang mungkin nama Kutubus Sittah saja kita tidak menghafalnya. Itulah para ‘ulama. Barokahnya ilmu mereka. 





" Oleh karena itu, dengan kondisi kita sekarang ini tidak heran jika banyak diantara kaum muslimin yang mengatakan agama kita tidak memiliki solusi karena memang mereka tidak mempelajari agama ini dengan sungguh-sungguh..
Andai kita mau mempelajarinya, niscaya kita akan menemukan berbagai hal yang menakjubkan dalam agama kita, seperti bagaimana cara mendidik, menata hati sesuai Sunnah Nabi-NYA, dan masih banyak lagi."


Ketika menulis ini saya jadi teringat dengan nasihat yang disampaikan oleh Al Ustadz Dzulqarnain. Kata beliau –kurang lebih- :

" Tidak ada satu masalah apa pun yang menimpa seorang hamba, baik itu berkaitan dengan dunianya, keluarganya, ataupun teman.-temannya ...
Masalah itu muncul dan tidak menemukan solusinya, melainkan sebabnya hanya satu, yaitu ada ilmu agama yang tidak dia ketahui ...
Andaikata seseorang itu mengetahui, ilmu tersebut bisa menjadi petunjuknya .. "




- Kata Syaikh Al Utsamimin rohimahulloh secara makna, “Setiap satu ayat dalam Al Qur’an. terkadang memiliki cakupan hukum yang sekian banyak terhadap permasalahan-permasalahan.”

- Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Alloh kehendaki kebaikan, maka akan Alloh faqihkan ia dalam agamanya.” Kalau kita belajar kepada para ulama’, maka kita akan menemukan bagaimana dalam satu ayat saja, kadang para ‘ulama sebutkan beberapa hadits dan faidahnya. Hal itu termasuk bentuk kemudahan yang Alloh berikan. 

- Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mendo’akan Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu, “Ya Allah, fakihkan (pahamkan) ia dalam masalah agama, dan ajarkan padanya takwil (tafsirnya).” Maka Allah mengabulkan do’a Nabi-Nya, sehingga jadilah Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu ulamanya umat dan beliau adalah ahli tafsir Al-Qur’an Al-Karim melalui do’a Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam.

-. Orang yang hanya sekedar menghafal Al Qur’an itu banyak, tapi yang faqih (paham) itu sedikit. Banyak para penjudi yang menghafal Al Qur’an di negara Mauritania. Mereka kumplkan orang, lalu masing-masing membaca surah Al Baqoroh secara terbalik. Bagi yang tidak salah, dia mengambil uangnya. Ini menunjukkan kepada kita sekedar menghafal itu bukanlah hal yang sulit. Tapi, yang memahami makna Al Qur’an, kandungan Al Qur’an itu sedikit. Demikian pula dengan penduduk Indonesia yang tidak kalah banyak para penghafal Al Qur’annya. Maka, kata Umar bin Khottob rodhiyallohu ‘anhu dalam riwayat Bukhory disebutkan bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, 



Alloh akan mengangkat Al Qur’an melalui segolongan kaum, Alloh hancurkan pula segolongan kaum dengan Al Qur’an.” 

- Begitu besar tanggung jawab kaum muslimin kepada agamanya. Siapa yang menginginkan sesuatu yang benar-benar nyata dalam agamanya, hendaknya dia memiliki upaya sebagaimana yang Alloh dan Rosul-NYA ajarkan.

- Imam Bukhory rohimahulloh telah mewakafkan hidupnya untuk memberi nasihat kepada kita melalui berbagai tulisan-tulisan beliau. Sekian banyak yang beliau tulis dalam berbagai karya yang tentunya ada sebuah harapan untuk kaum muslimin agar kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah. Tidaklah setiap hadits yang ditulis oleh beliau, kecuali telah beliau amalkan. Demikian pula para ‘ulama kita. Sampai Imam Ahmad rohimahulloh menunda memasukkan hadits hijamah (bekam) dalam kitab beliau, yaitu Al Musnad sampai beliau pergi dahulu untuk berbekam, baru setelah itu beliau tulis hadits masalah hijamah dalam kitab beliau. Demikianlah kondisi para  ‘ulama kita.

- Imam Bukhory rohimahulloh wafat pada tahun 256 H setelah sekian lama mewakafkan hidupnya untuk agama Alloh, berjihad untuk agama Alloh dengan warisan yang sedemikian besarnya yang beliau wasiatkan dalam berbagai karyanya. Tidak seperti orang-orang dimasa sekarang yang mengagungkan kuburan beliau. Sebagian orang mengatakan bahwa dirinya mencintai Nabi. Tapi, hakikat cinta bukan hanya sekedar pengakuan di lisan saja.





[Faidah dari Al Ustadz Ali Basuki, Lc hafizhohulloh dalam Pembahasan Kitab Adabul Mufrod, 2010]

__________________________________________________________

Tidak ada komentar: