بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Pada
kayuhan pertama kita telah membicarakan pentingnya bekal taqwa untuk perjalanan
ini. Berikutnya...
.. Ketahuilah
bahwa pernikahan adalah ibadah dan ketaatan kepada Alloh 'azza wa jalla! ..
Sudah
menjadi rahasia umum, pada kebanyakan manusia saat ini pernikahan hanyalah
legitimasi/pengesahan untuk hidup satu atap antara laki-laki dan perempuan
karena tinggal satu atap tanpa status yang jelas masih tabu di masyarakat kita.
Kita katakan demikian karena proses menuju pernikahan (baca: pacaran) telah
banyak melanggar syari'at dimana perkara yang sejatinya dihalalkan dengan
pernikahan ini telah "dihalalkan" sebelumnya. Tinggallah acara akad
nikah sebagai stempel untuk merubah status sosial semata. Wal'iyadzubillah!
Bagi
seorang muslim, pernikahan jelas jauh lebih mulia dari hal seperti itu.
Pernikahan adalah sunnah para nabi, khususnya nabi kita Muhammad shollallohu
'alaihi wasallam sebagaimana yang masyhur dari sabda beliau: "...akan
tetapi aku sholat dan aku tidur, aku berpuasa dan aku berbuka dan aku menikahi
wanita-wanita, maka barang siapa yang membenci sunnahku maka dia bukan
golonganku" (HR. Muslim).
Ketahuilah!
Pernikahan adalah ladang amal sholih meraih pahala dari Alloh subhanahu
wata'ala. Setiap saat, setiap waktu sang suami atau istri berkesempatan memetik
buah pahala amal sholih darinya. Bagaimana bisa demikian?
Disebutkan
dalam Shohih Muslim dari hadits Abu Dzar: Rosululloh bersabda: "Janganlah
kalian meremehkan kebaikan sedikitpun walaupun (sekedar) menemui saudaramu
dengan wajah berseri"....
Bagaimana
seandainya wajah berseri dan senyum manis itu adalah dari seorang istri untuk
suami tercinta? Seorang laki-laki yang dikatakan oleh Rosululloh shollallohu
'alaihi wasallam: "Seandainya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk
sujud kepada orang lain, aku akan memerintahkan istri untuk bersujud pada
suaminya"? [1] Subhanalloh! Tentu dia lebih berhak untuk itu. Segala
kepenatan dan kegalauan seakan sirna dengan senyuman manis itu.
Tentunya
demikian pula halnya dengan sang suami.
Ketahuilah
saudaraku, wanita adalah mahluk yang sangat perasa. Seribu satu pertanyaan
bergelayut di benaknya manakala suami pulang diam seribu basa, tak ada senyum
di bibirnya apalagi sapaan sayang seperti biasanya. Hatinya tersayat ketika
sang suami tambatan hatinya meninggikan suara. Jadilah engkau orang yang paling
lembut padanya! Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang
yang paling baik diantara kalian adalah orang yang paling bagus (akhlaknya)
pada keluarganya, dan aku (Rosululloh) adalah orang yang paling baik pada
keluarganya". [2]
Senada
dengan ini adalah hadits Abu Huroiroh dalam Shohih Muslim: Rosululloh
shollallohu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Alloh
dan hari akhir hendaknya ia berkata yang baik atau diam". Untaian kalimat
nan indah, tutur kata manis penuh hikmah menghiasi hari-hari kebersamaan suami
istri. Tak ada kata-kata kotor, tak ada saling meninggikan suara.
Rumahku...surgaku.
Bahkan
perkara yang menjadi kebutuhan dasar manusia, yang difasilitasi dengan
pernikahanpun bernilai ibadah. Sebagaimana datang dalam hadits Abu Dzar yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rosululloh menyebutkan pintu-pintu shodaqoh
sampai sabda beliau: "...dan dalam jima' (hubungan badan antara suami
istri) shodaqoh..". Tentu saja hal ini membuat para shohabat bertanya:
"Wahai Rosululloh, apakah seseorang menyalurkan syahwatnya kemudian dia
memperoleh pahala karena itu?" dengan bijak Rosululloh shollallohu 'alaihi
wasallam menjawab: "Bukankah kalau dia menyalurkanya pada perkara yang
haram dia mendapat dosa? Maka demikian pula halnya kalau dia menyalurkannya
pada perkara yang halal maka dia mendapat pahala".
Subhanalloh,
indahnya agama ini, indahnya pernikahan dalam bingkaian sunnah yang mulia ini!.
Dan masih
banyak lagi tuntunan Rosululloh yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.
Cukuplah ini kiranya untuk memacu diri, menggali sunnah Rosululloh shollallohu
'alaihi wasallam.
Oleh
karena itu, saudaraku...jadikanlah bidukmu biduk terindah yang pernah kau
miliki! Hiaslah bidukmu dengan amal sholih untuk meraih ridho Robbmu!
...Dan
malampun semakin kelam...semoga kita sampai pada kayuhan
berikutnya..biidznillahi ta'ala...
_____________________
[1]
hadits riwayat Tirmidzi dishohihkan oleh Al Albani dalam Al Irwa
[2]
hadits riwayat Tirmidzi. Berkata Al Albani rahimahulloh dalam Ash-Shohihah:
sanadnya shohih diatas syarat Bukhori Muslim.
_________________________
Maroji'
_________________________
Maroji'

Tidak ada komentar:
Posting Komentar