Minggu, 06 April 2014

... Mengayuh Biduk ... (2)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ



Pada kayuhan pertama kita telah membicarakan pentingnya bekal taqwa untuk perjalanan ini. Berikutnya...


.. Ketahuilah bahwa pernikahan adalah ibadah dan ketaatan kepada Alloh 'azza wa jalla! ..

Sudah menjadi rahasia umum, pada kebanyakan manusia saat ini pernikahan hanyalah legitimasi/pengesahan untuk hidup satu atap antara laki-laki dan perempuan karena tinggal satu atap tanpa status yang jelas masih tabu di masyarakat kita. Kita katakan demikian karena proses menuju pernikahan (baca: pacaran) telah banyak melanggar syari'at dimana perkara yang sejatinya dihalalkan dengan pernikahan ini telah "dihalalkan" sebelumnya. Tinggallah acara akad nikah sebagai stempel untuk merubah status sosial semata. Wal'iyadzubillah!

Bagi seorang muslim, pernikahan jelas jauh lebih mulia dari hal seperti itu. Pernikahan adalah sunnah para nabi, khususnya nabi kita Muhammad shollallohu 'alaihi wasallam sebagaimana yang masyhur dari sabda beliau: "...akan tetapi aku sholat dan aku tidur, aku berpuasa dan aku berbuka dan aku menikahi wanita-wanita, maka barang siapa yang membenci sunnahku maka dia bukan golonganku" (HR. Muslim).

Ketahuilah! Pernikahan adalah ladang amal sholih meraih pahala dari Alloh subhanahu wata'ala. Setiap saat, setiap waktu sang suami atau istri berkesempatan memetik buah pahala amal sholih darinya. Bagaimana bisa demikian?

Disebutkan dalam Shohih Muslim dari hadits Abu Dzar: Rosululloh bersabda: "Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun walaupun (sekedar) menemui saudaramu dengan wajah berseri"....

Bagaimana seandainya wajah berseri dan senyum manis itu adalah dari seorang istri untuk suami tercinta? Seorang laki-laki yang dikatakan oleh Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam: "Seandainya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, aku akan memerintahkan istri untuk bersujud pada suaminya"? [1] Subhanalloh! Tentu dia lebih berhak untuk itu. Segala kepenatan dan kegalauan seakan sirna dengan senyuman manis itu.

Tentunya demikian pula halnya dengan sang suami.

Ketahuilah saudaraku, wanita adalah mahluk yang sangat perasa. Seribu satu pertanyaan bergelayut di benaknya manakala suami pulang diam seribu basa, tak ada senyum di bibirnya apalagi sapaan sayang seperti biasanya. Hatinya tersayat ketika sang suami tambatan hatinya meninggikan suara. Jadilah engkau orang yang paling lembut padanya! Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang paling bagus (akhlaknya) pada keluarganya, dan aku (Rosululloh) adalah orang yang paling baik pada keluarganya". [2]

Senada dengan ini adalah hadits Abu Huroiroh dalam Shohih Muslim: Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari akhir hendaknya ia berkata yang baik atau diam". Untaian kalimat nan indah, tutur kata manis penuh hikmah menghiasi hari-hari kebersamaan suami istri. Tak ada kata-kata kotor, tak ada saling meninggikan suara. Rumahku...surgaku.

Bahkan perkara yang menjadi kebutuhan dasar manusia, yang difasilitasi dengan pernikahanpun bernilai ibadah. Sebagaimana datang dalam hadits Abu Dzar yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rosululloh menyebutkan pintu-pintu shodaqoh sampai sabda beliau: "...dan dalam jima' (hubungan badan antara suami istri) shodaqoh..". Tentu saja hal ini membuat para shohabat bertanya: "Wahai Rosululloh, apakah seseorang menyalurkan syahwatnya kemudian dia memperoleh pahala karena itu?" dengan bijak Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam menjawab: "Bukankah kalau dia menyalurkanya pada perkara yang haram dia mendapat dosa? Maka demikian pula halnya kalau dia menyalurkannya pada perkara yang halal maka dia mendapat pahala".

Subhanalloh, indahnya agama ini, indahnya pernikahan dalam bingkaian sunnah yang mulia ini!.

Dan masih banyak lagi tuntunan Rosululloh yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Cukuplah ini kiranya untuk memacu diri, menggali sunnah Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam.

Oleh karena itu, saudaraku...jadikanlah bidukmu biduk terindah yang pernah kau miliki! Hiaslah bidukmu dengan amal sholih untuk meraih ridho Robbmu!

...Dan malampun semakin kelam...semoga kita sampai pada kayuhan berikutnya..biidznillahi ta'ala...


_____________________

[1] hadits riwayat Tirmidzi dishohihkan oleh Al Albani dalam Al Irwa

[2] hadits riwayat Tirmidzi. Berkata Al Albani rahimahulloh dalam Ash-Shohihah: sanadnya shohih diatas syarat Bukhori Muslim.

_________________________
Maroji'

Tidak ada komentar: