Minggu, 07 Juli 2013

KAJIAN INTENSIF MENYAMBUT RAMADHAN (3)



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

CATATAN DARS
KAJIAN INTENSIF RAMADHAN

Selasa, 2 Juli 2013
-Sesi 1 (Ba’da Maghrib)-



Awal Mula disyari’atkannya Puasa Ramadhan

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Dahulu orang-orang Quraisy melakukan puasa Asyura’ pada jaman jahiliyah dan Rasulullah Shalllallahu ‘alaihi wa Sallam dahulu juga melakukannya. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau melakukannya dan memerintahkan manusia untuk mengerjakannya. Maka tatkala diwajibkannya puasa Ramadhan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata : “Barangsiapa yang mau, silahkan ia berpuasa dan siapa yang mau, silahkan ia meninggalkannya.” (HR. Bukhari, Muslim dan lainnya)

Faidah hadits di atas :
1.Ketika itu puasa Asyura’ diwajibkan atas kaum muslimin. Namun, ketika syari’at puasa Ramadhan turun, maka puasa Asyura’ menjadi sunnah hukumnya, sedangkan puasa Ramadhan wajib hukumnya.

2.Ketika syari’at puasa Ramadhan telah turun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberikan 2 pilihan, yaitu bagi yang mau berpuasa Ramadhan silahkan, bagi yang tidak, boleh meninggalkannya.



Secara rinci, penetapan syari’at puasa Ramadhan dibagi menjadi 2 tahapan, yaitu :

1. Pada saat syari’at puasa Ramadhan turun, umat Islam diberikan pilihan. Bagi yang mampu berpuasa, bisa melaksanakan. Bagi yang tidak mampu, memberi makan 1 orang miskin. Tetapi, yang lebih utama adalah berpuasa.

Dari Salamah bin Akwa’, beliau berkata, "Dahulu ketika kami tiba di bulan Ramadhan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam berkata, ‘Barangsiapa yang ingin berpuasa maka boleh berpuasa, dan barangsiapa yang ingin berbuka maka dia memberi makan seorang miskin, hingga turun ayat Alloh (yang artinya) : ‘Barangsiapa yang mendapati bulan (ramadhan) maka dia wajib berpuasa.“ (HR. Bukhari, No.4507, Muslim, No.1145)


2. Pada tahap ini seorang muslim wajib berpuasa Ramadhan. Namun, ketika itu orang yang tertidur sebelum berbuka puasa atau setelah menunaikan shalat ‘isya’, tidak diperbolehkan makan, minum, dan berjima' hingga hari berikutnya. Hal ini terasa berat di kalangan sahabat. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala pun memberikan keringanan dan membolehkan mereka makan, minum, dan mendatangi istri mereka pada malam hari di bulan Ramadhan.


Kewajiban puasa Ramadhan ini dimulai pada tahun ke-2 Hijriyah dan setelah awal penetapan syari’at Ramadhan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat pergi berperang dalam Perang Badar pun juga di pertengahan Ramadhan (17 Ramadhan).



..................


Puasa Ramadhan adalah bulan Syarhut Tarbiyah (Bulan Pendidikan dan Pembinaan), yaitu bulan pendidikan bagi kita -umat Islam- agar semakin dekat kepada Alloh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan karena Alloh, pahalanya juga serupa dengan pahala mendirikan Qiyamulail di bulan Ramadhan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : "Barangsiapa mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Alloh), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. " (HR. Bukhari dan Muslim)




Meninggalkan Perbuatan yang Membuat Puasa Tidak Sempurna

Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang kita untuk berbicara dan berbuat dusta dan kasar dalam setiap keadaan, terkhusus di bulan Ramadhan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Alloh tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903)

Faidah Hadits di atas menunjukkan bahwa di bulan Ramadhan, larangannya lebih keras dibandingkan bulan-bulan yang lainnya. Walaupun larangan ini juga ada berlaku untuk semua hari di luar bulan Ramadhan, baik siang maupun malamnya. Hanya saja, larangan di bulan Ramadhan sifatnya lebih keras.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata, “Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata-kata dan berbuat yang keji. Apabila ada seseorang yang mencela atau mennganiayanya, maka hendaklah ia katakan ‘Aku sedang berpuasa’” [HR. Bukhari, No. 1904 dan Muslim, No. 1151]. Dari hadits ini bukan berarti ketika sudah waktu berbuka, maka boleh bagi kita untuk berkata-kata dan berbuat keji.

Termasuk kesalahan jika semua amalan mungkin kita dapati hanya di bulan Ramadhan saja. Seakan-akan jika bukan bulan Ramadhan, maka tidak pergi ke masjid,tidak sholat shubuh, tidak sholat ‘isya’, dan seterusnya. Hal yang seperti itu tidak terjadi kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Keseharian mereka sama seperti keseharian mereka di bulan Ramadhan. Bahkan, melebihi orang-orang selain mereka di zamannya dulu sehingga Alloh Ta’ala mensifatkan mereka sebagaimana yang terdapat di dalam Al Qur’an di mana Alloh Subhanahu wa Ta’ala berkata, 
“Muhammad itu adalah utusan Alloh dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah KERAS terhadap orang-orang kafir, tetapi BERKASIH SAYANG kepada sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Alloh dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud mereka. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Alloh hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Alloh menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS.Al Fath : 29). Masya Alloh… 
Itu lah para sahabat radhiyallahu ‘anhum. keras terhadap orang kafir, tapi  berlemah-lembut kepada sesama mereka. Sikap tawadhu’ mereka, seakan-akan bagi mereka Ramadhan adalah setiap waktu. Bukan hanya di Ramadhan saja amalan kita dihitung, seakan-akan kalau ingin dekat dengan Alloh, ya di Ramadhan. Ada pun sekarang ini kita melihat ada sebagian orang yang menganggap bahwa Ramadhan seakan-akan hanyalah adat istiadat saja.

Padahal di dalam bulan Ramadhan terdapat banyak sekali keutamaan. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233). 

Oleh karena itu, janganlah kita menganggap hitungan pahala hanya di bulan Ramadhan saja, mau berbuat baik, taubat, dan sebagainya hanya di bulan Ramadhan saja.




Hikmah Puasa Ramadhan

1.) Ikut merasakan penderitaan fakir miskin. Jika di luar Ramadhan kita merasa lapar, saat itu juga ada jalan keluarnya. Kita bisa makan, bisa membelinya. Pada siang hari pun juga ada jalannya ketika perut lapar. Seakan-akan setiap kita lapar selalu ada jalannya. Berbeda dengan para fuqoro’ (orang-orang faqir) dan masakin (orang=orang miskin) yang mereka harus menghitung-hitung dahulu uang yang mereka miliki cukup tidak untuk membeli makanan. Untuk besok masih ada persediaan makanan atau tidak. Kemudian, Ustadz pun menyampaikan tips memanajemen makan bagi kita yang masih suka memilih-milih makanan, yaitu ketika perut masih kenyang, maka janganlah makan. Kalau makanan masih terasa kurang enak, maka cobalah untuk menunggu sampai lapar. Insya Alloh akan terasa enak kita memakanannya.

2.) Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang didapat. Dalam hadis qudsi Alloh Ta’ala berfirman,Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)



Perkara puasa yang diantaranya juga dirasakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu beliau pun pernah merasakan lapar sebagaimana kita, yaitu :

1..Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pergi keluar rumah. Di pertengahan jalan, beliau bertemu dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhum. Lalu, Nabi Shalllallahu ‘alaihi wa Sallam pun bertanya “Mengapa kalian keluar rumah,” Para sahabat menjawab, “Tak ada yang membuat kami keluar rumah selain rasa lapar.” Rasulullah pun berkata, “Saya juga.” Lalu, beliau mengajak dua sahabatnya itu datang ke rumah seorang sahabat bernama Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Sang tuan rumah, Abu Ayyub, bergembira ria oleh kedatangan tamu-tamu yang sangat dihormatinya itu. Abu Ayyub menyuguhkan roti, daging, kurma basah dan kering (tamar). Setelah mereka menyantap suguhan itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan mata berkaca-kaca (menangis) berkata, “Kenikmatan ini akan ditanya oleh Alloh kelak di hari Kiamat.” (HR Muslim, Thabrani, dan Baihaqi).

2. Sa’ad bin Abu Waqqash radhiyallahu ‘anhu, berkata: “Sesungguhnya saya itu orang Arab pertama yang melempar panah fisabilillah. Ketika itu, kami semua berperang beserta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan kami tidak mempunyai makanan sedikitpun melainkan daun pohon hublah dan daun pohon samurini, sehingga seorang dari kami mengeluarkan kotoran besar sebagaimana keadaan kambing kalau mengeluarkan kotoran besarnya dan tidak dapat bercampur dengan lainnya, yakni bulat-bulat serta kering, karena tidak ada yang bisa kami makan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
~~Faidah~~
Faidah yang bisa kita ambil dari dua hadits di atas bahwasanya perjalanan mereka –nabi dan para Sahabat- berada di atas jalan Islam, di atas didikan Islam. Jikalau Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menginginkan, beliau bisa menengadahkan tangannya. Memohon kepada Alloh agar diturunkan makanan dari langit. Tetapi, yang beliau lakukan hanyalah berdo’a untuk menguatkan kaki-kaki dan hati-hati mereka agar tidak menjadi manusia yang manja, manusia yang lemah. Ketika kebanyakan manusia di dunia ini menginginkan kedudukan atau sesuatu yang tinggi dalam perkara-perkara duniawi, mereka sudah tidak menginginkannya lagi. Itu semua karena didikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mendidik para sahabat di atas tarbiyah Islam. Masya Alloh...


Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Akan selalu ada pada hati orang yang tumbuh dewasa 2 perkara, yaitu cinta pada dunia dan angan-angan yang tinggi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu 'Abbas bin Sahl bin Sa'ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Ibnu Az Zubair berkata di Makkah di atas mimbar saat khutbah, "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata, ‘Seandainya anak Adam mempunyai satu lembah emas, niscaya dia akan senang kalau dia mempunyai dua lembah. Seandainya dia mempunyai dua lembah, niscaya dia akan senang kalau dia mempunyai (lembah) yang ketiga. Tidak akan ada yang bisa memenuhi mulutnya, kecuali tanah, dan Alloh menerima taubat dari orang yang mau bertaubat.’ “ (HR. Bukhari, No. 6438)

Maka, beruntunglah seseorang yang masuk Islam dan diberikan risky berupa kecukupan, lalu dia menjadi qona’ah. Itulah orang yang beruntung. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa Sallam bersabda: “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan atau kecukupan (dalam) jiwa (hati).” (HR. Bukhari, No. 6081 dan Muslim, No. 1051)

Itulah generasi yang kita dapatkan dari para pahlawan Islam yang menjadikan hari-harinya seperti di bulan Ramadhan bahkan melebihi hari-hari mereka di bulan Ramadhan.


Alhamdulillahilladzii bi ni'matihi tatimmush sholihaat..




~~~~~~~~~~~~~~~0000~~~~~~~~~~~~~~~~









Tidak ada komentar: