Selasa, 29 April 2014

Faidah Muhadhoroh "Indahnya Taubat"

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ



Salah satu hikmah kalau kita bisa mengambil ilmu dari seorang guru adalah ketika guru tersebut membacakan sebuah ayat, hadits, atau menceritakan suatu kisah, lalu di dalamnya terdapat adab, uslub, ushul, targhib (motivasi), atau tarhib (peringatan) yang bisa diambil oleh murid, maka guru pun akan menyampaikannya. Berbeda halnya kalau kita membacanya sendiri. Kadang ada faidah yang luput kita dapatkan. Barangkali karena kita tidak terlalu mencermati isi kandungannya atau alasan yang lainnya. 



Sebagaimana yang terdapat dalam kisahnya Ka'ab bin Malik rodhiyallohu 'anhu dan dua orang lainnya yang tertinggal dari Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam dalam Perang Tabuk sehingga mengakibatkan penerimaan taubat mereka ditangguhkan. Ketika itu Nabi dan rombongan tengah beristirahat sesampainya mereka di negri Tabuk. Tiba-tiba beliau bertanya, "Mengapa Ka'ab bin Malik tidak turut serta berperang bersama kita?" Salah seorang sahabat dari Bani Salimah menjawab, 'Ya Rosululloh, sesungguhnya Ka’ab bin Malik lebih mementingkan dirinya untuk bertahan di bawah selimutnya daripada ikut berperang bersama kami." Mendengar ucapan sahabat tersebut, Mu'adz bin Jabal pun berkata, "Sungguh betul-betul buruk ucapanmu itu! Demi Alloh, ya Rosululloh, tidaklah saya mengetahui Ka'ab bin Malik, kecuali beliau selalu di atas kebaikan." Mendengar jawaban dua sahabatnya, Nabi hanya terdiam.

Dari hadits yang panjang di atas, ada pelajaran penting yang bisa kita ambil. 

Ketika kita mengetahui saudara kita terjatuh dalam kesalahan, tetapi kondisinya belum jelas, maka sikap yang terbaik dari orang yang berilmu adalah seperti sikapnya sahabat Mu'adz bin Jabal, yaitu berada di atas prinsip berbaik sangka kepada saudaranya dan melakukan pembelaan terhadap saudaranya dari tuduhan yang belum tentu jelas kebenarannya. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sendiri, ketika mendengar ucapan dari dua orang sahabatnya, beliau hanya terdiam karena memang beliau tidak memiliki ilmu akan kebenarannya. Nabi pun menunggu hingga beliau kembali ke kota Madinah dan bertanya langsung kepada Ka’ab bin Malik.

Secara keseluruhan, pembahasan berkaitan dengan taubat yang disampaikan oleh Ustadz Khidir ini bagus dan bermanfaat. Mempelajarinya termasuk  perkara yang penting karena tidak ada satu manusia pun di muka bumi ini yang luput dari kesalahan. Taubat sendiri adalah bagian dari ibadah. Kemuliaan yang tiada tandingannya. Seluruh ibadah adalah kemuliaan, akan tetapi taubat betul-betul memuliakan seorang hamba karena sebelumnya hamba yang melakukan dosa, dia berada dalam kubangan lumpur maksiat. Taubat itulah yang membersihkan dirinya dari dosa-dosa dan mengangkatnya ke dalam derajat kemuliaan. Taubat dari dosa-dosa juga tidak hanya pada dosa-dosa yang besar saja, tetapi juga pada dosa-dosa yang kecil. Dosa yang kecil apabila dibiarkan terus menerus, lambat laun akan berubah menjadi dosa yang besar. Oleh karena taubat bagian dari ibadah, maka pelaksanaannya pun harus sesuai dengan tuntutan Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam agar taubat kita diterima oleh Alloh.

Ustadz juga mengingatkan tentang bermacam-macam kezholiman. Kezholiman terbagi menjadi 3, yaitu kezholiman antara hamba dengan Robb-nya, hamba dengan dirinya, dan hamba dengan hamba yang lainnya. Kezholiman antara hamba dengan hamba inilah yang disebut sebagai kezholiman yang tidak akan ditinggalkan hingga hari kiamat tiba. Perhitungannya akan terus dilakukan sampai hamba yang dizholimi tersebut memaafkan orang yang telah menzholiminya. Oleh karena itu, perbanyaklah mengingat segala dosa-dosa kita. Berhati-hati dengan segala bentuk kezholiman terhadap saudara kita, baik dengan sikap kita atau lisan kita. Jika ada hak dari saudara kita yang belum kita kembalikan, maka bersegeralah mengembalikan haknya. Jika hak tersebut berhubungan dengan harta dan saudara kita sudah tidak ada, maka carilah ahli warisnya atau kita salurkan kepada fasilitas-fasilitas umum sebagai bentuk sedekah untuknya. Demikian pula ada perincian untuk bertaubat dari dosa-dosa ghibah dan bersaksi palsu. 


Alhamdulillaah..
“Seandainya ilmu bisa digambarkan, tentu ia lebih indah dari matahari dan rembulan." [Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah]



[Faidah dari Al-Ustadz Khidir Hafizhohulloh dalam Pembahasan "Indahnya Taubat", 2014] 
___________________________________________


Tidak ada komentar: