Minggu, 13 April 2014

Nasihat Imam Asy-Syafi’iy Kepada Muridnya, Imam Al-Muzany

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ



Imam Al-Muzany bercerita, “Aku menemui Imam Asy-Syafi’iy menjelang wafatnya, lalu aku berkata, “Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai ustadzku ?”

Beliau menjawab, “Pagi ini aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelekan amalanku. Aku tidak tahu; apakah diriku berjalan ke sorga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya.”

Aku berkata, “Nasehatilah aku.”

Asy-Syafi’iy berpesan kepadaku, 

Bertakwalah kepada Allah,
Permisalkanlah akhirat dalam hatimu,
Jadikanlah kematian antara kedua matamu dan jangan lupa engkau akan berdiri di hadapan Allah.
Takutlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla,
Jauhilah apa-apa yang Dia haramkan, laksanakanlah segala yang Dia wajibkan, dan hendaknya engkau bersama Allah dimanapun engkau berada.
Jangan sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah terhadapmu -walaupun nikmat itu sedikit- dan balaslah dengan bersyukur.

Jadikanlah diammu sebagai tafakkur,
Pembicaraanmu sebagai dzikir dan
Pandanganmu sebagai pelajaran.
Maafkanlah orang yang menzholimimu,
Sambunglah orang yang memutus silaturahmi kepadamu,
Berbuat baiklah kepada siapa yang berbuat jelek kepadamu,
Bersabarlah terhadap segala musibah dan
Berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan ketakwaan.”

Aku berkata, “Tambahlah (nasehatmu) kepadaku.”

Beliau melanjutkan,

“Hendaknya kejujuran adalah lisanmu,
Menepati janji adalah tiang tonggakmu,
Rahmat adalah buahmu,
Kesyukuran sebagai thaharahmu,
Kebenaran sebagai perniagaanmu,
Kasih sayang adalah perhiasanmu,
Kecerdikan adalah daya tangkapmu,
Ketaatan sebagai mata percaharianmu,
Ridha sebagai amanahmu,
Pemahaman adalah penglihatanmu,
Rasa harapan adalah kesabaranmu,
Rasa takut sebagai pakaianmu,
Shadaqah sebagai pelindungmu dan zakat sebagai bentengmu.

Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu,
Sifat tenang sebagai menterimu,
Tawakkal sebagai baju tamengmu,
Dunia sebagai penjaramu dan kefakiran sebagai pembaringanmu.
Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu,
Haji dan jihad sebagai tujuanmu,
Al-Qur`ân sebagai juru bicaramu dengan kejelasan dan jadikanlah Allah sebagai Penyejukmu.
Siapa yang sifatnya seperti ini, maka sorga adalah tempat tinggalnya.”

Kemudian Asy-Syafi’iy mengangkat pandangannya ke arah langit seraya menghadirkan susunan ta’bir. Lalu beliau bersya’ir,



Kepada Mu -wahai Ilâh segenap makhluk ... 
Wahai Pemilik anugerah dan kebaikan- ...
Kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa.
Tatkala hati telah membatu dan sempit segala jalanku,
Kujadikan harapan pengampunan-Mu sebagai tangga bagiku
Kurasa dosaku teramatlah besar, namun tatkala dosa-dosa itu
Kubandingkan dengan maaf-Mu -wahai Rabb-ku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besar

Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus menerus
Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan.
Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorang pun ahli ibadah yang tersesat oleh Iblis

Bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu, Adam.

Kalaulah Engkau memaafkan aku, maka Engkau telah memaafkan
Seorang yang congkak, zholim lagi sewenang-wenang yang masih terus berbuat dosa.

Andaikata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa,
Walaupun diriku telah engkau masukkan ke dalam Jahannam lantara dosaku.
Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang,

Namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi dan lebih besar.”



[Tarikh Ibnu Asâkir Juz 51 hal 430-431].

________________

Sumber :

Tidak ada komentar: